Padang – Sumatera Barat bergerak cepat memulihkan ekologi pascabencana banjir dan longsor akhir 2025. Gerakan Sejuta Pohon diluncurkan dengan dukungan penuh dari berbagai pihak, termasuk pemerintah provinsi dan PT Semen Padang.
Inisiatif yang digagas Yayasan Rumah Aktivis Sejahtera ini mendapat sambutan positif. PT Semen Padang memberikan bantuan 10 ribu bibit kaliandra untuk mendukung program penghijauan tersebut.
"Kami mengapresiasi Yayasan Rumah Aktivis Sejahtera yang mampu mensinergikan berbagai unsur untuk peduli pada bumi," kata Direktur Keuangan PT Semen Padang, Iskandar Z Lubis, saat penyerahan bibit di Pemandian Jembatan Sitapuang, Kota Padang, Kamis (22/01). "Penghijauan adalah tanggung jawab bersama untuk generasi berikutnya. Kami berharap kegiatan ini memberi manfaat berkelanjutan," tambahnya.
Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah, turut mengapresiasi gerakan ini sebagai bagian penting dari rehabilitasi lingkungan pascabencana. Ia menyoroti manfaat kaliandra sebagai tanaman energi dan berharap gerakan ini menjadi masif di seluruh Sumbar.
"Misalnya, wakaf minimal dua bibit pohon bagi pasangan calon pengantin yang akan menikah. Ini akan kami koordinasikan dengan Kantor Wilayah Kementerian Agama. Kita harapkan ini bisa terwujud," usul Mahyeldi terkait kebijakan penghijauan berbasis keagamaan.
Pj Sekretaris Daerah Kota Padang, Raju Minropa, menekankan pentingnya penghijauan di hulu sungai dan kawasan hutan untuk mengurangi risiko bencana hidrometeorologi. Ia mengungkapkan bahwa Kota Padang juga menghadapi masalah kekeringan pascabencana.
"Bencana hidrometeorologi erat kaitannya dengan air dan kondisi lingkungan. Penghijauan, khususnya di hulu sungai dan kawasan hutan, menjadi kunci untuk mengurangi risiko bencana," ujar Raju. "Data kami mencatat ada sekitar 121 titik di Kota Padang yang mengalami kekeringan," imbuhnya.
Ketua Yayasan Rumah Aktivis Sejahtera, Febriyandi Putra, menjelaskan bahwa gerakan ini dilatarbelakangi oleh bencana ekologis dan bertujuan untuk mendorong pemulihan yang kolaboratif dan berkelanjutan.
"Hari ini kita membutuhkan solusi atas bencana ekologis yang terjadi di Sumbar. Karena itu kami mendorong keterlibatan semua pihak – pemerintah, BUMN, swasta, LSM, organisasi kepemudaan, hingga masyarakat – untuk bergerak bersama. Target awal kami satu juta pohon, dan jumlahnya bisa bertambah sesuai partisipasi publik," kata Febriyandi.
Jenis pohon yang ditanam tidak hanya berfungsi sebagai tanaman hutan, tetapi juga tanaman produktif bernilai ekonomi, seperti durian, petai, jengkol, dan kaliandra. Gerakan ini melibatkan sekitar 20 pihak kolaborator dengan target penanaman satu juta pohon di tingkat provinsi dan 10 ribu pohon di Kota Padang.
"Gerakan ini kami awali dari Kota Padang dengan penanaman bertahap dan estafet. Penanaman dilakukan di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Lubuk Minturun hingga kawasan pesisir Pantai Padang," jelas Febriyandi.
Lebih lanjut, Febriyandi berharap Gerakan Sejuta Pohon bukan hanya seremonial, tetapi juga mendorong lahirnya kebijakan publik yang menjadikan menanam pohon sebagai budaya dan kewajiban sosial.






