Komisaris Utama Hutama Karya Tinjau Proyek Strategis Nasional di Sumatera Barat

Padang – Dewan Komisaris PT Hutama Karya (Persero) melakukan peninjauan langsung terhadap sejumlah proyek infrastruktur strategis di Sumatera Barat pada 12-13 April 2026. Kunjungan lapangan ini bertujuan memastikan kualitas konstruksi sekaligus mengurai hambatan teknis di lapangan.

Proyek yang menjadi fokus peninjauan meliputi pembangunan Jalan Tol Padang-Sicincin, Flyover Sitinjau Lauik, Gedung SPPG Tipe 1 Kota Padang, serta rehabilitasi infrastruktur pascabencana di Lembah Anai. Dalam kunjungan tersebut, Komisaris Utama Hutama Karya, Denny Abdi, didampingi oleh jajaran komisaris dan direksi perusahaan.

Terkait pembangunan Jalan Tol Padang-Sicincin, Dewan Komisaris menyoroti kendala pembebasan lahan yang masih menjadi tantangan utama. Manajemen diminta segera mengambil langkah strategis, baik melalui pendekatan hukum maupun persuasif, agar percepatan konstruksi tidak terhambat.

Sementara itu, pada proyek penanganan dampak bencana di Lembah Anai, Dewan Komisaris memberikan apresiasi atas kecepatan kerja tim di lapangan. Mereka menekankan pentingnya menjaga tata kelola dan administrasi proyek agar tetap sesuai standar.

Di sisi lain, proyek Flyover Sitinjau Lauik yang dikembangkan melalui skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) menjadi sorotan karena perannya yang krusial dalam meningkatkan keselamatan transportasi di jalur rawan kecelakaan Padang-Solok.

Plt. EVP Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Hamdani, menegaskan bahwa kegiatan management walkthrough ini merupakan bentuk komitmen perusahaan dalam menjaga standar kualitas setiap proyek.

"Infrastruktur yang dibangun dengan pengawasan ketat menjadi fondasi konektivitas yang mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah secara berkelanjutan," ujar Hamdani dalam keterangan tertulis, Kamis (16/4/2026).

Hutama Karya berkomitmen menyelesaikan seluruh proyek tersebut tepat mutu guna memberikan dampak jangka panjang bagi masyarakat. Kehadiran infrastruktur ini diharapkan mampu memangkas waktu tempuh, menekan biaya logistik, serta membuka akses ekonomi baru di Sumatera Barat.