Wisran Hadi Ubah Hang Tuah: Jebat Pemberontak, Kesetiaan Bukan Harga Mati

Padang – Drama "Senandung Semenanjung" karya Wisran Hadi hadirkan interpretasi baru Hikayat Hang Tuah, fokus pada pemberontakan Hang Jebat. Karya sastra ini tidak lahir dari ruang hampa, melainkan hasil penyerapan dan penafsiran ulang karya sebelumnya, ungkap seorang pengamat sastra.

Wisran Hadi, sastrawan yang dikenal dengan isu sosial budaya Minangkabau, memilih sudut pandang berbeda dalam menuturkan kisah klasik ini. Ia menyoroti sisi pemberontakan Hang Jebat, bukan mengisahkan cerita secara utuh.

Terdapat tiga poin utama intertekstualitas dalam kedua teks ini. Pertama, transformasi tokoh. Hang Jebat, yang semula pengkhianat, kini menjadi simbol perlawanan terhadap penindasan. Ia mempertanyakan legitimasi raja yang sewenang-wenang.

Kedua, perubahan ideologi. "Senandung Semenanjung" menawarkan ideologi baru, di mana kesetiaan bergeser kepada kebenaran dan keadilan, bukan lagi mutlak kepada penguasa.

Ketiga, struktur penceritaan. Wisran Hadi mengemas cerita dengan lebih padat, fokus pada pemberontakan Hang Jebat untuk menghasilkan sudut pandang yang lebih tajam.

Dalam versi klasik, Hang Tuah adalah simbol kesetiaan mutlak kepada raja. Namun, Wisran Hadi membalik peran tersebut, menjadikan Hang Jebat sebagai tokoh utama yang melawan penindasan.

Hikayat Hang Tuah menguatkan doktrin feodal, sementara "Senandung Semenanjung" menawarkan nilai kebenaran dan keadilan sebagai landasan kesetiaan.

Secara naratif, Hikayat Hang Tuah memiliki alur panjang, sementara Wisran Hadi memfokuskan cerita pada konflik utama, yaitu pemberontakan Hang Jebat.