Padang – Sapi Pesisir, rumpun ternak asli Indonesia, kini menjadi fokus utama dalam upaya memperkuat ketahanan pangan nasional. Potensi besar sapi lokal ini untuk pengembangan peternakan efisien dan berkelanjutan di iklim tropis semakin disadari.
Kepala BPTU-HPT Padang Mengatas, Farouk Mochtar, menyatakan bahwa pengembangan sapi Pesisir dikelola secara terarah melalui sistem pemeliharaan berbasis padang penggembalaan. "Dengan dukungan areal pastura yang luas, ternak dipelihara secara alami namun tetap dalam pengawasan ketat terkait manajemen produksi, reproduksi, kesehatan, serta kecukupan pakan. Sistem ini menghasilkan sapi yang sehat, tangguh, dan memiliki kualitas genetik yang terjaga," ujarnya.
Program pengembangan sapi Pesisir di Padang Mengatas dimulai dengan penjaringan ternak dari masyarakat. Pada tahun 2013, sebanyak 50 ekor sapi berhasil dihimpun, diikuti penambahan 55 ekor pada tahun berikutnya. Pengadaan terbesar terjadi pada tahun 2015 dengan 150 ekor sapi. Populasi sapi Pesisir terus berkembang hingga mencapai 648 ekor pada awal tahun 2026. Pertumbuhan ini didukung oleh manajemen pembibitan terencana, seleksi bibit ketat, dan pengelolaan reproduksi berkesinambungan.
Dalam lima tahun terakhir, sapi Pesisir mencatat tingkat kelahiran tertinggi dibandingkan rumpun sapi lain yang dipelihara, menyumbang hampir setengah dari total kelahiran setiap tahunnya. Persentase kelahiran mencapai 46,44 persen, menunjukkan tingkat fertilitas yang baik dan efisiensi jarak beranak optimal.
Keunggulan sapi Pesisir terletak pada kemampuannya beradaptasi dengan lingkungan tropis. Ternak ini tahan terhadap suhu panas, efisien memanfaatkan hijauan lokal, serta tangguh menghadapi tekanan lingkungan dan penyakit. Ukuran tubuhnya yang kompak dan kebutuhan nutrisi yang tidak terlalu tinggi membuat sapi Pesisir cocok dikembangkan dalam berbagai sistem pemeliharaan, baik ekstensif maupun intensif.
Minat masyarakat terhadap sapi Pesisir terlihat dari tingginya angka distribusi ternak oleh BPTU-HPT Padang Mengatas. Sapi Pesisir tidak hanya berkembang di Sumatera Barat, tetapi juga telah didistribusikan ke berbagai wilayah di Indonesia. Data distribusi menunjukkan bahwa pada periode 2018 hingga 2025, sapi Pesisir menyumbang sekitar 43,26 persen dari total penyaluran ternak. Dari total distribusi sebanyak 2.561 ekor, sekitar 1.108 ekor di antaranya adalah sapi Pesisir.
Di berbagai daerah, sapi Pesisir terbukti mudah dipelihara dengan biaya yang relatif rendah, namun tetap memiliki performa reproduksi yang stabil. Dukungan pembibitan terstruktur serta pengawasan profesional dari BPTU-HPT Padang Mengatas memastikan peningkatan mutu genetik sapi Pesisir tanpa menghilangkan karakter adaptif alaminya.
Sapi Pesisir kini dipandang sebagai aset genetik nasional yang berperan penting dalam mendukung pembangunan peternakan Indonesia. Pengembangan berkelanjutan diharapkan mampu meningkatkan populasi ternak nasional sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi peternak di berbagai daerah.


