Padang – Praktik judi online kini berkembang semakin canggih dan terstruktur, sehingga menjadi ancaman serius bagi berbagai lapisan masyarakat. Anggota Komisi I DPR RI, Mulyadi, menegaskan bahwa fenomena ini bukan sekadar hiburan, melainkan jebakan sistematis yang mampu menjerat pengguna hingga kehilangan kendali finansial dan sosial.
Dalam Forum Diskusi Publik bertema "Bijak Digital tanpa Judi Online" yang digelar Rabu (22/4/2026), Mulyadi menyoroti dampak destruktif yang ditimbulkan. Menurutnya, banyak masyarakat yang terjebak hingga mengalami kerugian besar, mulai dari terlilit utang, konflik keluarga, kehilangan pekerjaan, hingga terjerumus ke dalam tindakan kriminal.
"Kita tidak sedang berbicara tentang hiburan, tetapi tentang jebakan yang sistematis dan terstruktur," ujar Mulyadi.
Ia menjelaskan bahwa pesatnya revolusi digital telah mengubah pola interaksi sosial. Meski internet menawarkan peluang ekonomi dan akses informasi, ruang digital kini juga menjadi ladang subur bagi praktik judi online. Generasi muda menjadi kelompok yang paling rentan karena tingginya intensitas penggunaan internet yang tidak dibarengi dengan literasi digital serta keuangan yang memadai.
Mulyadi menekankan bahwa penegakan hukum melalui pemblokiran situs saja tidak cukup untuk memberantas persoalan ini. Diperlukan pendekatan mendasar berupa edukasi untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menyaring informasi secara kritis.
"Literasi digital bukan hanya soal kemampuan menggunakan teknologi, tetapi kemampuan untuk berpikir kritis, memahami risiko, serta mengambil keputusan yang bijak dalam ruang digital," tegasnya.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan gerakan bijak digital sebagai upaya bersama. Mulyadi mendorong generasi muda agar lebih proaktif memanfaatkan teknologi sebagai sarana edukasi yang inspiratif, bukan sekadar menjadi pengguna pasif.
"Saya mengajak generasi muda untuk tidak hanya menjadi pengguna, tetapi menjadi penggerak," pungkasnya.
Selain Mulyadi, diskusi tersebut juga menghadirkan Pemimpin Redaksi Kata Sumbar, Andika D Khagen, sebagai narasumber untuk membedah tantangan literasi di era digital.






