Payakumbuh – Pemerintah Kota Payakumbuh memanfaatkan Rapat Koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat untuk menyampaikan sejumlah persoalan strategis daerah. Wali Kota Payakumbuh, Zulmaeta, secara langsung menyampaikan tantangan penanganan bencana banjir, pengelolaan TPA Regional, hingga pengembangan sektor ekonomi dalam pertemuan yang digelar di Aula Josrizal Zain, Kantor Walikota Payakumbuh, Rabu (25/02/2026).
"Kami masih menghadapi tantangan serius dalam penanganan bencana, terutama banjir," ujar Zulmaeta, menyoroti perlunya penanganan pascabencana yang komprehensif akibat luapan Sungai Batang Agam, Batang Lampasi, dan Batang Pulau. Bencana hidrometeorologi pada akhir 2025 telah menyebabkan kerusakan rumah dan lahan pertanian.
Selain masalah banjir, Zulmaeta juga menyoroti persoalan TPA Regional yang memicu keluhan masyarakat akibat tumpukan sampah dan pengelolaan air lindi yang belum optimal. Ia meminta dukungan provinsi untuk pemakaian kembali TPA regional pada 2026 serta perbaikan akses jalan menuju TPST.
Di sektor infrastruktur, Pemko Payakumbuh mengusulkan pemeliharaan jalan provinsi yang rusak akibat cuaca ekstrem dan kendaraan ODOL, serta mendorong pelebaran Jalan Lingkar Selatan. Zulmaeta juga menyinggung kapasitas produksi air minum Perumda Tirta Sago yang belum mampu mengimbangi pertumbuhan perumahan, menyebabkan penundaan rekomendasi bagi 11 pengembang perumahan.
Pada sektor ekonomi, Zulmaeta mengungkapkan peluang kerja sama dengan perusahaan The Sak Bali yang siap menyerap produk dari 1.000 pengrajin rajut dan anyaman. "Ini peluang emas bagi UMKM kita," katanya, seraya membuka kerja sama dengan pengrajin dari daerah sekitar dan berharap provinsi memfasilitasi hilirisasi produk handycraft.
Menanggapi usulan tersebut, Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi, menegaskan 2026 harus menjadi titik balik kebangkitan ekonomi Sumbar. "Tahun 2026 harus menjadi langkah awal transisi dari ekonomi berbasis komoditas mentah menuju industri olahan, digital, dan berwawasan lingkungan," tegasnya.
Mahyeldi memaparkan empat strategi utama, yaitu hilirisasi agroindustri, transformasi pariwisata dan ekonomi hijau, akselerasi digitalisasi UMKM, dan mitigasi bencana sebagai investasi ekonomi. Ia menyebut potensi devisa hasil ekspor sebesar Rp20 triliun dapat memicu dampak ekonomi hingga Rp80 triliun dan menyerap 240 ribu tenaga kerja hingga 2029.




