Rawang – Angin Ramadan berembus sejuk di Taman Tun Teja, Malaysia, saat Mukhni, seorang dosen dan guru mengaji asal Nagari Tanjung Barulak, Tanah Datar, menyambut hangat. Di balik kesederhanaannya, terukir kisah perjalanan panjang menuntut ilmu hingga ke negeri jiran.
"Umur 14 tahun saya sudah pergi menuntut ilmu ke Arab," kenang Mukhni membuka percakapan.
Lahir pada 6 Juli 1957, Mukhni kecil dikenal sebagai pelajar cemerlang di Thawalib Padang Panjang. Keinginannya belajar ke Timur Tengah membawanya mengikuti ujian kelas empat lebih cepat. Dukungan datang dari pimpinan sekolah yang melihat potensi besar dalam dirinya.
Keberadaan Amin Saidi, ayah tuo-nya yang bekerja sebagai penjahit di Riyadh, menjadi motivasi tambahan. Amin Saidi rutin mengirim uang dan kabar ke kampung halaman, menginspirasi Mukhni untuk mengikuti jejaknya. Amin Saidi juga merupakan kakek dari pengusaha sukses Nurhayati Subakat, pendiri PT Paragon Technology and Innovation, menjadikan Mukhni dan Nurhayati memiliki hubungan kekerabatan.
Tahun 1971, Mukhni muda memberanikan diri merantau ke Riyadh dengan bekal bahasa yang terbatas. "Kita asal kampung. Bahasa Inggris tidak pandai, bahasa Arab pun baru bahasa buku. Tapi berani saja naik pesawat," ujarnya sambil tersenyum.
Di Riyadh, ia bekerja sebagai tukang jahit, mengumpulkan modal untuk melanjutkan pendidikan. Pelanggannya bahkan berasal dari kalangan pejabat penting Arab Saudi. Berkat rekomendasi seorang pelanggan, Mukhni diterima kuliah di Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud, Riyadh, jurusan Ushuluddin, tanpa melewati jenjang SMA.
Setelah lulus pada tahun 1982, Mukhni mendapat kesempatan mengajar di Persatuan Muhammadiyah Singapura. Pada tahun 1985, ia menjadi dosen di International Islamic University Malaysia (IIUM) di Gombak, mengajar bahasa Arab dan Al-Qur’an selama lebih dari tiga dekade.
Kini, Mukhni menetap di Malaysia bersama keluarga, dikaruniai enam anak dan delapan cucu. Meski pensiun, ia tetap aktif mengajar Al-Qur’an dan bahasa Arab, serta terlibat dalam misi kemanusiaan, termasuk membantu korban banjir bandang di Sumatra Barat.
Bagi Mukhni, ilmu adalah amanah yang harus terus dibagikan. Perjalanan hidupnya yang penuh liku menjadi inspirasi bagi banyak orang.


