Jakarta – Bencana hidrometeorologi basah yang menerjang Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara awal tahun ini, meninggalkan luka mendalam. Dampak kerusakan parah dan korban jiwa terus menjadi perhatian utama pemerintah.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan, hingga awal Februari 2026, sebanyak 1.204 jiwa meninggal dunia akibat bencana tersebut. "Selain itu, 140 orang masih dalam pencarian dan lebih dari 105 ribu jiwa terpaksa mengungsi," ujar juru bicara BNPB dalam keterangan persnya.
Upaya penanganan darurat dan pemulihan terus dikebut. BNPB bersama pemerintah daerah, TNI, Polri, serta kementerian dan lembaga terkait bersinergi mempercepat pembangunan hunian sementara (huntara) bagi para pengungsi. Pembukaan akses jalan dan jembatan serta pemulihan kawasan permukiman menjadi prioritas utama.
"Kami menargetkan pembangunan huntara selesai sebelum Ramadan," tegas perwakilan BNPB. Dari 17.332 unit yang diajukan, 5.039 unit telah rampung dan siap dihuni. Sementara itu, pengajuan pembangunan hunian tetap tercatat sebanyak 14.286 unit.
Bantuan logistik terus disalurkan kepada para korban. Sejak akhir November 2025 hingga akhir Januari 2026, total bantuan logistik yang telah didistribusikan mencapai 1.767,07 ton. Pendistribusian dilakukan melalui berbagai moda transportasi, termasuk pesawat charter BNPB, pesawat Hercules, truk jalur darat, dan kapal laut. Logistik didistribusikan dari Pos Logistik Sumatra Barat (2.321,18 ton) dan Pos Logistik Aceh (2.186,2 ton).
Pemerintah juga mengoptimalkan penyaluran Bantuan Dana Tunggu Hunian (DTH). Hingga awal Februari 2026, 18.938 rekening penerima DTH telah siap, dan bantuan telah disalurkan kepada 9.360 kepala keluarga.
Sebagai upaya percepatan tanggap darurat, BNPB melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di tiga provinsi terdampak. Di Aceh, OMC telah dilaksanakan 532 sorti dengan total bahan semai 508.000 kilogram. Di Sumatra Utara, 406 sorti dengan total bahan semai 357.000 kilogram. Sementara di Sumatra Barat, 409 sorti dengan total bahan semai 406.325 kilogram. Operasi ini bertujuan mengendalikan intensitas curah hujan dan mengurangi potensi bencana susulan.
BNPB berkomitmen memperkuat koordinasi dengan seluruh pihak untuk memastikan penanganan bencana berjalan efektif dan berkelanjutan. Sinergi yang solid diharapkan mampu mempercepat pemulihan infrastruktur, memenuhi kebutuhan hunian layak, dan memperkuat mitigasi risiko bencana.






