4 Negara yang Terdampak Virus Nipah, Apakah Indonesia Termasuk?

  • Virus Nipah Mengintai: Asia Waspada, Indonesia Aman?
  • Dua Kasus Baru Nipah di India, Ancaman Global Kembali Menguat?
  • Nipah Merebak Lagi, Negara Asia Siaga Satu, Indonesia Bagaimana?

  • Jakarta – Virus Nipah kembali menjadi perhatian dunia setelah dua kasus terdeteksi di Bengala Barat, India, sejak Desember lalu. Meskipun jumlah kasus masih terbatas, kemunculan virus mematikan ini memicu kewaspadaan di berbagai negara Asia.

    Virus Nipah dikenal sebagai penyakit zoonosis yang sangat mematikan, dengan tingkat kematian mencapai 40 hingga 75 persen. Hingga kini, belum ada vaksin atau obat khusus untuk penyakit ini. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan memasukkan Nipah dalam daftar 10 penyakit prioritas global, sejajar dengan Covid-19 dan Zika.

    Wabah Nipah pertama kali terdeteksi di Malaysia pada 1998, khususnya di kalangan peternak babi. Virus ini kemudian menyebar ke Singapura melalui distribusi ternak. Akibat wabah ini, lebih dari 100 orang meninggal dan sekitar satu juta babi dimusnahkan.

    "Virus Nipah sangat berbahaya karena tingkat kematiannya yang tinggi dan potensi penularan yang cepat," ujar Dr. Siti Nadia Tarmizi, Juru Bicara Kementerian Kesehatan RI, saat dihubungi melalui sambungan telepon, Rabu (15/05/2024).

    Sejak 2001, Bangladesh menjadi negara yang paling sering mengalami wabah Nipah. Penularan di Bangladesh sering dikaitkan dengan konsumsi nira kurma mentah yang terkontaminasi kelelawar buah, reservoir alami virus Nipah. Penularan dari manusia ke manusia juga dilaporkan, terutama di lingkungan keluarga dan fasilitas kesehatan.

    India juga beberapa kali dilanda wabah Nipah, terutama di West Bengal pada 2001 dan 2007, serta Kerala yang menjadi pusat penyebaran virus ini. Pada 2018, Kerala mencatat 19 kasus infeksi, dengan 17 kematian. Wabah kembali muncul pada 2023 dengan enam kasus terkonfirmasi dan dua kematian.

    Saat ini, belum ada laporan kasus Nipah di luar India. Namun, beberapa negara Asia telah meningkatkan langkah pencegahan. Thailand melakukan skrining kesehatan di bandara internasional untuk penumpang dari wilayah terdampak, sementara Nepal memperketat pengawasan di bandara dan perbatasan darat dengan India. Taiwan mengusulkan agar Nipah dikategorikan sebagai penyakit Kategori 5, yang memerlukan pelaporan dan penanganan khusus.

    Virus Nipah dapat menular dari hewan ke manusia, terutama melalui kelelawar buah dan babi, serta antar manusia melalui kontak dekat atau makanan yang terkontaminasi.

    "Masyarakat diimbau untuk selalu menjaga kebersihan diri dan lingkungan, serta menghindari kontak dengan hewan yang berpotensi menularkan virus," imbau Dr. Nadia.

    Hingga saat ini, belum ada informasi terkait virus Nipah di Indonesia. Namun, pemerintah terus memantau perkembangan situasi dan mengambil langkah-langkah pencegahan yang diperlukan.