Padang – Bencana alam yang menerjang Kota Padang pada akhir tahun lalu menyebabkan pergeseran aliran sungai dan memicu krisis air bersih. Pemerintah Kota (Pemko) Padang mencatat ada 121 titik kekeringan yang tersebar di berbagai wilayah, terutama di Kecamatan Kuranji.
Penjabat (Pj) Sekda Padang, Raju Minropa, mengungkapkan bahwa mayoritas warga terdampak, sekitar 80 persen, selama ini mengandalkan sumur gali sebagai sumber air utama karena tidak terjangkau layanan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). "Sungai berpindah, irigasi putus, sumur warga kering. Prioritas kami saat ini adalah memulihkan akses air bersih bagi masyarakat," tegas Raju saat peluncuran program "Sejuta Pohon untuk Sumbar 2026" di Koto Tangah, Kamis (22/1/2026).
Menanggapi situasi darurat ini, Pemko Padang telah menyusun rencana aksi yang meliputi dua tahap. Tahap pertama adalah distribusi air bersih menggunakan mobil tangki dari BPBD Kota Padang, BPBD Provinsi, dan PMI ke 121 titik kekeringan.
Sebagai solusi jangka panjang, pemerintah bekerja sama dengan Balai Pembangunan Kawasan Permukiman Sumbar untuk membangun sumur bor di lima lokasi prioritas mulai Sabtu ini. Sumur bor ini diharapkan menjadi sumber air alternatif bagi warga yang belum terlayani PDAM.
Selain itu, Pemko Padang menggandeng Yayasan Rumah Aktivis Sejahtera dalam gerakan penanaman satu juta pohon. Inisiatif ini bertujuan untuk memulihkan fungsi resapan air di kawasan hulu sungai. Dinas Pertanian juga berkomitmen untuk mengawal pertumbuhan pohon-pohon tersebut demi menjaga ketahanan ekologi jangka panjang.
"Penghijauan kembali hutan dan hulu sungai adalah solusi utama untuk memperbaiki siklus air," pungkas Raju.






