Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diluncurkan pemerintah sejak awal 2025, menghadapi sejumlah kendala serius termasuk insiden keracunan massal dan kegagalan distribusi. Program yang bertujuan mengatasi masalah gizi dan stunting di kalangan anak sekolah, ibu hamil, dan keluarga miskin ini, dinilai lebih fokus pada kuantitas daripada kualitas gizi dan keamanan pangan.
Sejumlah laporan dan temuan awal implementasi menunjukkan sanitasi buruk dan indikasi bahwa porsi besar menjadi prioritas utama. Analisis literatur program makan sekolah dan manajemen sanitasi makanan menunjukkan desain MBG saat ini rentan gagal mencapai tujuan gizi jangka panjang.
Untuk mencapai tujuan sosial gizi dengan aman dan berkelanjutan, MBG perlu didesain ulang dengan model desentralisasi terstandarisasi, sertifikasi sanitasi wajib, monitoring ketat, serta partisipasi komunitas dan pendidikan gizi. Program ini juga memerlukan penguatan tata kelola, inspeksi, nutrisi menu, dan transparansi anggaran.







Komentar