Surabaya – Anggota Komisi VI DPR RI Gde Sumarjaya Linggih menilai Bali berpotensi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru lewat penerapan Undang-Undang tentang Pusat Finansial Internasional Indonesia (UU PFII).
Ia menilai aturan tersebut dapat menjadi pintu masuk penting untuk menarik investasi langsung dari luar negeri atau foreign direct investment (FDI) yang dinilai berdampak luas bagi perekonomian nasional dan posisi Bali di mata investor global.
“Pada dasarnya kita sangat membutuhkan foreign direct investment atau investasi langsung dari luar negeri, karena itu akan menjadi kekuatan baru bagi perekonomian kita, pertumbuhan kita, dan khususnya Bali,” kata Demer di sela Kunjungan Kerja Komisi VI DPR RI di Surabaya, Jawa Timur, Jumat (24/7/2026).
Politisi Fraksi Partai Golkar itu mengatakan kehadiran pusat finansial internasional di Bali akan membawa efek berganda bagi perekonomian daerah maupun nasional.
Menurut dia, kawasan tersebut bukan hanya berpeluang menyerap produk dalam negeri, tetapi juga membuka lapangan kerja dan mendorong masuknya investasi ke berbagai daerah yang memiliki potensi sumber daya alam serta sumber daya manusia.
“Banyak produksi nanti yang akan diserap oleh kawasan International Finance Center itu, dan tentu sumber daya manusia kita juga akan terserap. Investasinya bahkan tidak hanya di Bali, tetapi meluas ke seluruh Indonesia yang kaya potensi sumber daya alam dan manusia,” ujarnya.
Demer menegaskan pengembangan pusat finansial internasional harus menjadi momentum pemerataan pembangunan di Pulau Dewata.
Ia mengingatkan agar kawasan itu tidak kembali menumpuk di wilayah Sarbagita yang meliputi Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan, melainkan diarahkan ke Bali Utara, Bali Timur, atau Bali Barat.
“Pertumbuhan di Bali saat ini belum merata, hanya di selatan. Saya minta financial center itu jangan berada di kawasan Sarbagita, tetapi mengarah ke Bali Utara, Bali Timur, dan Bali Barat agar pertumbuhannya berkualitas,” tegasnya.
Ia juga menilai pemerataan investasi harus ditopang infrastruktur strategis.
Menurut Demer, kapasitas Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai sudah mendekati batas maksimal sehingga perlu segera dibangun bandara baru untuk mendukung mobilitas pelaku bisnis dan wisatawan mancanegara.
“Kapasitas Bandara Ngurah Rai saat ini sudah sangat penuh, jadi perlu segera ada bandara baru untuk mendukung pergerakan bisnis dan wisatawan internasional. Dengan daya tarik pariwisata dan reputasi Bali di dunia, saya optimistis kawasan finance center ini akan dipercaya para pelaku bisnis internasional,” pungkasnya.






