JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan rentetan bencana hidrometeorologi yang melanda berbagai wilayah di Indonesia sepanjang 13 hingga 14 April 2026. Fenomena banjir, angin kencang, hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi ancaman serius yang berdampak pada ratusan kepala keluarga.
Banjir besar menerjang Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, akibat luapan Sungai Lusi setelah hujan deras mengguyur wilayah hulu. Sebanyak 475 kepala keluarga terdampak setelah rumah mereka terendam air. Meski kondisi banjir di beberapa kecamatan seperti Purwodadi dan Wirosari mulai surut, warga tetap diminta waspada. Situasi serupa terjadi di Kabupaten Tapin, di mana 230 rumah warga sempat terendam banjir sebelum akhirnya genangan air berangsur turun.
Selain banjir, angin kencang juga memicu kerusakan di Kabupaten Lampung Timur dan Kabupaten Banjar. Di Banjar, terjangan angin kencang menyebabkan pohon tumbang yang sempat melumpuhkan akses jalan. "Tim BPBD bersama instansi terkait telah berhasil membuka kembali akses jalan, dan kondisi saat ini sudah terkendali," ujar perwakilan pihak berwenang dalam laporan resmi BNPB.
Di sisi lain, ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau kian mengkhawatirkan. Hingga 13 April 2026, luas lahan yang terbakar tercatat mencapai 3.456,23 hektare. Pemerintah setempat masih menetapkan status siaga darurat dan terus mengoptimalkan operasi modifikasi cuaca untuk memadamkan titik api.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan potensi cuaca ekstrem masih akan terjadi dalam dua hari ke depan. Wilayah Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi diminta mewaspadai hujan intensitas sedang hingga lebat yang disertai petir dan angin kencang. Sebaliknya, wilayah Riau dan sebagian Kalimantan diprediksi mengalami cuaca panas ekstrem yang meningkatkan risiko karhutla.
Menanggapi kondisi tersebut, BNPB mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan. Warga diminta rutin membersihkan saluran air, memangkas ranting pohon yang berisiko tumbang, serta memperkuat struktur atap rumah. Masyarakat juga dilarang keras membuka lahan dengan cara membakar dan diminta segera melapor jika menemukan titik api. Pemerintah daerah diharapkan terus memperkuat koordinasi lintas sektor guna meminimalkan dampak bencana bagi masyarakat.




