Pariaman – Kebahagiaan bercampur haru menyelimuti Assyifa Rahma Fiandra (17), siswi SMAN 1 Pariaman, ketika Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB), Tatacipta Dirgantara, menyambangi kediamannya di Jalan Malalak, Desa Apar. Kedatangan rektor itu bukan tanpa alasan, melainkan untuk menjemput Assyifa yang diterima di Program Studi Geologi ITB melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) tahun 2026.
Assyifa, putri dari Radikal (52) dan almarhumah Fitriani, kehilangan ibunya pada tahun 2023 akibat kecelakaan saat mengantarnya ke sekolah. Kelulusan di ITB ini menjadi hadiah terindah bagi Assyifa untuk mendiang ibunya. "Alhamdulillah diterima di ITB, bunda," ucap Assyifa menirukan pesan WhatsApp yang dikirimkannya ke nomor ibunya, Minggu (5/4/2026).
Meski tahu tak akan ada balasan, Assyifa rutin mengirim pesan kepada ibunya melalui WhatsApp. Baginya, ini adalah cara untuk melepas rindu, mencurahkan suka dan duka, serta memanjatkan doa. "Jujur Assyifa tidak menyangka, diterima di ITB ini masih tidak menyangka. Terharu. Ini kado untuk bunda," ungkapnya.
Kehilangan sosok ibu tak memadamkan semangat Assyifa. Ia bangkit dengan tekad kuat untuk mengejar mimpi-mimpinya. Berbagai prestasi berhasil diraihnya, termasuk Juara 1 Olimpiade Kebumian SMAN 3 Padang dan Olimpiade Kebumian SMAPSIC SMAN 1 Padang. Ketertarikannya pada ilmu kebumian dan geologi mengantarkannya ke ITB.
Assyifa dijadwalkan berangkat ke Bandung pada Juni 2026. Rektor ITB, Tatacipta Dirgantara, berpesan agar Assyifa menjadi mahasiswa yang membanggakan dan berprestasi. "Pesan pak rektor dan tim, mereka berharap nanti Assyifa di sana jadi mahasiswa membanggakan dan berprestasi. ‘Kami menunggu di Bandung’," kata Assyifa menirukan pesan rektor.
Assyifa selalu mengenang perjuangan ibunya yang selalu mendukungnya untuk terus belajar, termasuk mimpi kuliah di ITB. Kecelakaan yang merenggut nyawa ibunya terjadi saat mengantarnya ke sekolah. "Waktu itu Assyifa kelas 10, hari Kamis 26 Oktober 2023, bunda mengantarkan ke sekolah dengan sepeda motor. Di persimpangan, kami berdua ditabrak mobil," kenangnya.
Assyifa terseret sejauh 20 meter, sementara ibunya terpental. Keduanya dilarikan ke rumah sakit. Assyifa menjalani operasi tulang panggul, sementara ibunya koma di ICU. Tiga hari berjuang, ibunya menghembuskan napas terakhir.
Alumni Geologi ITB, Nofrins Napilus, yang ikut dalam rombongan rektor, mengaku terharu dengan perjuangan Assyifa. Ia mengapresiasi langkah rektor yang mendatangi langsung calon mahasiswanya. "Ini memberikan motivasi lebih bahwa calon mahasiswa dengan lika liku perjuangannya, untuk bisa kuliah," kata Nofrins.






