Meriam Tua di Lapangan Golf Semen Padang: Saksi Bisu Perang Dunia II

Padang – Dua meriam tua berdiri kokoh di tengah Lapangan Golf PT Semen Padang, Indarung, Kota Padang, menjadi saksi bisu sejarah Perang Dunia II. Meriam-meriam yang berkarat itu, tetap tegak seolah menantang waktu, menarik perhatian pengunjung dan menyimpan misteri masa lalu.

Lapangan golf yang dulunya merupakan area tambang tanah liat seluas 50 hektare, kini menjadi ruang hijau yang sejuk. Selain keindahan alam, dua meriam tua itu menjadi daya tarik utama. Pengunjung seringkali berswafoto di depannya, tanpa menyadari bahwa mereka berdiri di hadapan saksi bisu sejarah kelam.

Sumatera Barat memang menyimpan banyak peninggalan militer Jepang, karena wilayah ini menjadi jalur strategis pertahanan pantai barat Sumatra pada masa pendudukan 1942-1944. Jepang membangun berbagai fasilitas militer, termasuk meriam pertahanan.

Diperkirakan ada ratusan meriam peninggalan Jepang tersebar di Indonesia, sebagian berada di benteng pantai, permukiman warga, pelabuhan, bahkan kebun. Banyak yang tidak tercatat secara resmi, termasuk dua meriam di Indarung ini.

Masing-masing meriam memiliki panjang sekitar lima meter dengan diameter laras 60 sentimeter. Keduanya dipasang sejajar dari timur ke barat dengan jarak sekitar 30 meter. Meriam di sisi timur mengarah ke Bukit Batu Kapur PT Semen Padang, sementara meriam di sisi barat menghadap ke kawasan Pabrik Indarung VI. Arah bidikan ini memunculkan berbagai spekulasi mengenai fungsinya.

Pada salah satu meriam tertera tulisan "O.F. 3 INCH. 20 CWT. MK III" dan angka 1916, menandakan meriam ini diproduksi pada era Perang Dunia I dan digunakan kembali oleh Jepang. Meriam lainnya menyisakan kode samar "NάµL/169".

Menurut buku 100 Tahun PT Semen Padang, Jepang menduduki Indarung pada April 1942 dan menghidupkan kembali pabrik semen yang sempat berhenti beroperasi. Pabrik tersebut kemudian diubah namanya menjadi Asano Cement, lalu Pabrik Semen Indarung. Semen yang diproduksi digunakan untuk kepentingan ekonomi perang Jepang.

Pada 24 Agustus 1944, pabrik dibom oleh Sekutu, menyebabkan kerusakan parah dan menewaskan puluhan buruh. Setelah itu, Jepang memaksa buruh membangun lebih banyak lubang perlindungan dan benteng pertahanan.

Dharmansyah Siroen, tokoh masyarakat Indarung, mengatakan bahwa dudukan beton meriam dibuat melalui kerja paksa masyarakat pribumi. "Sejak kawasan ini ditambang hingga menjadi lapangan golf, posisi meriam tidak pernah dipindahkan," ujarnya.

Kepala Unit Komunikasi dan Kesekretariatan PT Semen Padang, Idris, mengatakan bahwa PT Semen Padang memilih merawat peninggalan sejarah tersebut. "Kami memandang meriam ini sebagai bagian dari nilai sejarah yang patut dijaga," katanya.

Lapangan Golf PT Semen Padang kini menjadi lanskap hijau yang menyimpan ingatan perang, kerja paksa, dan perjalanan panjang sebuah industri. Dua meriam tua itu tetap berdiri, mengingatkan bahwa Indarung pernah menjadi bagian dari pusaran sejarah dunia.