Jakarta – Layanan kredit digital kini menjadi solusi strategis bagi perempuan Indonesia dalam mengatasi hambatan akses pembiayaan formal seperti keterbatasan agunan dan riwayat kredit.
Laporan Dampak Sosial dan Ekonomi Kredivo mencatat bahwa jumlah masyarakat yang memperoleh akses kredit pertama melalui platform tersebut meningkat hingga 10 kali lipat sejak 2019.
Sebanyak 48 persen dari pengguna yang baru pertama kali mendapatkan akses kredit tersebut merupakan perempuan.
Momentum Bulan Inklusi Keuangan (BIK) yang diinisiasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong Kredivo untuk terus memperluas akses keuangan yang setara bagi seluruh gender.
Data Bank Dunia pada tahun 2020 menunjukkan bahwa perempuan memiliki sekitar 60 persen UMKM di Indonesia, namun mereka masih kesulitan mendapatkan modal usaha.
Chief Marketing Officer Kredivo, Indina Andamari, menegaskan komitmen perusahaan dalam menciptakan kesetaraan akses pembiayaan sejak berdiri pada 2016.
“Sejak berdiri pada 2016, Kredivo percaya bahwa inklusi keuangan harus memberikan kesempatan yang setara, termasuk bagi laki-laki maupun perempuan untuk mengakses pembiayaan,” ujar Indina.
Ia menambahkan bahwa akses kredit yang tepat dapat menjadi pendukung bagi perempuan untuk mengembangkan usaha dan memperkuat kemandirian ekonomi keluarga.
Tren pemanfaatan kredit untuk kegiatan produktif menunjukkan peningkatan signifikan hingga tahun 2025.
Sebanyak 54 persen kredit yang disalurkan Kredivo kini digunakan untuk kebutuhan produktif, dengan jumlah pengguna yang mengakses modal usaha melonjak 15 kali lipat dibanding 2019.
Perempuan memegang peran krusial dalam tren ini dengan mencakup 48 persen dari total penerima kredit usaha di Kredivo.
Wakil Kepala Bidang Penelitian dan Pelatihan LD FEB UI, Paksi Walandouw, menyatakan bahwa akses keuangan memiliki kaitan erat dengan posisi tawar perempuan dalam rumah tangga.
“Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa Kredivo turut memperluas akses kredit bagi perempuan, dengan 48% pengguna yang pertama kali mengakses kredit melalui Kredivo adalah perempuan,” ungkap Paksi.
Paksi menilai akses pembiayaan tersebut membantu perempuan dalam mengelola sumber daya dan menentukan pilihan ekonomi secara lebih mandiri.
Kredivo terus mengedepankan prinsip responsible lending serta berbagai program edukasi keuangan seperti Generasi Djempolan dan KrediCast untuk menjaga kesehatan inklusi keuangan.
Laporan perusahaan mencatat bahwa 65,7 persen pengguna Kredivo telah tergolong well-literate atau memiliki pemahaman keuangan yang baik.
Indina menekankan pentingnya menjaga pertumbuhan kredit tetap sehat melalui keseimbangan antara perluasan akses dan literasi keuangan.
“Semakin luas akses yang terbuka, semakin penting memastikan pertumbuhannya tetap sehat,” tutup Indina.




