Jakarta – Umat Islam yang menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan diingatkan untuk menjaga lisan dari perbuatan tercela seperti ghibah atau membicarakan keburukan orang lain. Perbuatan ini dapat menghilangkan pahala puasa dan bahkan membatalkannya.
Rizem Azid, penulis buku "Salah Kaprah! Shalat, Puasa, Sedekah, dan Doa Penyebab Ibadah Tertolak, Rezeki Seret, dan Hidup Ruwet" menegaskan pentingnya menjaga lidah dari dusta, termasuk ghibah. "Ghibah itu perbuatan sia-sia dan bisa menghilangkan pahala puasa," ujarnya.
Menurutnya, membicarakan keburukan orang lain adalah dosa besar dan haram hukumnya. Bahkan, dalam kondisi berpuasa, ghibah dapat membatalkan puasa. Hal ini selaras dengan sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Thabrani dari Jabir RA, "Allah boleh jadi mengampuni seseorang yang telah berzina yang kemudian menyesali perbuatannya dan memohon ampunan-Nya. Namun, Allah SWT tidak akan memaafkan seseorang yang menggunjingkan orang lain, sebelum penderita gunjingan itu memaafkannya."
Imam Al-Ghazali dalam buku yang sama juga menyatakan bahwa ghibah, namimah (mencaci dan menyumpah orang lain), sumpah palsu, dan memandang dengan syahwat termasuk hal-hal yang membatalkan puasa secara rohani.
Abdurrahman Al-Mukaffi dalam bukunya "89 Kesalahan Seputar Puasa Ramadhan" menjelaskan bahwa ghibah dapat merusak pahala puasa, meskipun orang yang melakukannya tetap berada dalam timbangan amal.
Selain menjaga lisan, umat Islam juga dianjurkan untuk memperhatikan adab-adab berpuasa lainnya. Hamid Ahmad Ath-Thahir dalam buku "Fiqhus Sunnah For Kids" menyebutkan beberapa adab, di antaranya mengakhirkan sahur, meninggalkan ucapan kotor, menyegerakan berbuka, berbuka dengan kurma atau air, membaca doa berbuka, serta memperbanyak zikir dan membaca Al-Qur’an.






