Jakarta – World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 resmi diselenggarakan di Jakarta pada 22 Oktober lalu.
Pendiri Butter Baby, Henry dan Nick Burch, berpartisipasi sebagai pembicara dalam sesi bertajuk “Brand Diplomacy Through Food”.
Keduanya memaparkan strategi bagaimana jenama kuliner dapat melampaui fungsi produknya sebagai jembatan bagi narasi, karakter, dan pengalaman mendalam konsumen.
Industri makanan dan minuman memiliki potensi besar menjadi wadah pengenalan kreativitas serta identitas lokal di tingkat global.
Butter Baby memanfaatkan momentum WCCE 2026 untuk menunjukkan perpaduan antara produk, animasi, desain ruang, dan pengalaman ritel.
Jenama ini mengembangkan konsep multimedia universe yang menjadikan donat sebagai pintu masuk menuju dunia imajiner bernama Butterlandia.
Co-founder Butter Baby, Nick Burch, menjelaskan filosofi di balik pengembangan bisnis mereka yang mengutamakan penciptaan dunia bagi konsumen.
“Bagi kami, membangun brand adalah tentang menciptakan dunia yang ingin dimasuki dan dialami orang-orang,” ujar Nick.
Nick menambahkan bahwa produk hanyalah titik awal, sedangkan elemen pendukung seperti storytelling dan desain membantu menghadirkan pengalaman yang lebih utuh.
Pendekatan tersebut telah diimplementasikan melalui flagship store di Jakarta, instalasi karakter di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, hingga kegiatan pop-up di Los Angeles.
Henry Burch menegaskan bahwa Jakarta memegang peranan krusial dalam perjalanan kreatif mereka karena memberikan keberanian untuk bereksperimen.
“Jakarta selalu menjadi bagian penting dari cara kami membangun Butter Baby,” ungkap Henry.
Henry berharap semangat kreativitas yang lahir dari Jakarta tersebut dapat terus terhubung dengan audiens yang lebih luas di berbagai negara.
Kehadiran Butter Baby dalam ajang ini memperkaya diskursus mengenai peran jenama makanan dan minuman sebagai ruang pertukaran budaya.







