Padang – Bencana hidrometeorologi melanda Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, sejak 24 November 2025, menyebabkan 7.988 warga mengungsi dan kerusakan infrastruktur yang signifikan. Pemerintah Kabupaten telah menetapkan status tanggap darurat dan memfokuskan upaya pada penanganan pengungsi serta pemulihan akses ke wilayah-wilayah yang terisolir.
Dampak bencana meluas ke 12 kecamatan dan 36 nagari, dengan Kecamatan Batipuh, Batipuh Selatan, dan X Koto menjadi wilayah yang paling parah terkena dampak. Puluhan rumah hanyut dan ratusan lainnya mengalami kerusakan akibat bencana ini.
Sebanyak 16 jembatan putus, mengakibatkan tiga nagari di Kecamatan Batipuh Selatan terisolir dari akses darat. Pemerintah Kabupaten Tanah Datar telah membuka dapur umum, mendirikan posko pengungsian, dan menggalang donasi untuk membantu para korban.
Distribusi logistik menjangkau daerah-daerah sulit, termasuk wilayah terisolir, melalui jalur alternatif Danau Singkarak. Alat berat dikerahkan untuk membuka akses jalan yang tertimbun material banjir, dengan bantuan juga datang dari Balai Wilayah Sungai Sumatera Barat dan Hutama Karya Indonesia (HKI).
Sektor pertanian juga mengalami dampak signifikan, dengan kerusakan irigasi dan lahan sawah seluas 480,64 hektare. Bencana ini mengakibatkan tiga orang meninggal dunia dan lima orang mengalami luka-luka.
Masa tanggap darurat diperpanjang hingga 17 Desember 2025. Pemerintah Kabupaten Tanah Datar tengah mempersiapkan Hunian Sementara (Huntara) bagi para pengungsi sebagai bagian dari upaya pemulihan pascabencana.







Komentar