Teater "Jual Bual": Sidang Doktorat Unik, Sentuh Realitas Sosial Pasar
Surakarta – Panggung Teater Arena Taman Budaya Surakarta akan menjadi saksi bisu sidang doktoral yang tak lazim. Kurniasih Zaitun, seorang pengajar di ISI Padang Panjang, akan mempertahankan disertasinya melalui pementasan teater berjudul "Jual Bual" pada Senin (9/2/2026) malam. Pertunjukan ini bukan sekadar hiburan, melainkan representasi mendalam praktik komunikasi pedagang obat kaki lima di pasar tradisional Minangkabau.
Kurniasih menjelaskan bahwa "Jual Bual" merupakan puncak dari riset artistik dan konseptual selama empat tahun, dengan proses penciptaan teater memakan waktu hampir satu tahun. "Karya teaternya berjudul Jual Bual. Proses penciptaannya hampir satu tahun, sedangkan risetnya sekitar empat tahunan," ujarnya pada Sabtu (7/2/2026).
Disertasi berjudul Dramaturgi Kurenah dalam Penciptaan Teater Jual Bual menggunakan pendekatan penelitian berbasis praktik. Sidang promosi doktoral Kurniasih dipromotori oleh Dr. Dr. Eko Supriyanto, S.Sn., M.F.A., dengan Dr. Yusril, M.Sn., sebagai kopromotor. Tim penguji terdiri dari para ahli seni dan teater terkemuka.
Inspirasi "Jual Bual" berawal dari karya "Komplikasi" (2008) yang mengangkat persoalan sosial melalui interaksi pedagang obat kaki lima. Dalam disertasinya, praktik jual beli obat bukan hanya aktivitas ekonomi, tetapi juga pertunjukan yang mempertaruhkan bahasa, tubuh, waktu, dan kepercayaan di depan publik. Eksplorasi ini berlanjut melalui karya "ICU" dan "ICU+", hingga mencapai sintesis dalam "Jual Bual".
Konsep kunci dalam disertasi ini adalah kurenah, kecerdikan sosial khas Minangkabau yang memadukan siasat, kelenturan bahasa, permainan tubuh, dan pengelolaan waktu. Kurenah menjadi paradigma dramaturgis dan cara berpikir dalam penciptaan teater.
Dengan pendekatan teater postdramatik, "Jual Bual" menyajikan kolase peristiwa performatif dengan teks cair dan improvisatif. Format pertunjukan menyerupai talkshow interaktif, mencairkan batas antara pemain dan penonton. Kurniasih menambahkan, "Salah satu kebaruan yang ditawarkan adalah perumusan jeda dramatik sebagai strategi dramaturgis yang berakar pada tubuh matrilineal. Jeda tidak dipahami sebagai kekosongan, melainkan sebagai tindakan performatif."
Secara artistik, "Jual Bual" menawarkan model penciptaan teater yang cair, improvisatif, dan berakar pada praktik sosial rakyat. Secara akademik, disertasi ini memperluas wacana teater Indonesia dengan dramaturgi kurenah sebagai paradigma lokal yang berdialog dengan teori global. "Jual Bual" menegaskan teater sebagai ruang perjumpaan seni, publik, dan realitas sosial melalui risiko, kehadiran tubuh, dan penundaan makna.






