Jakarta – Mengelola penghasilan setara Upah Minimum Regional (UMR) di tengah lonjakan harga kebutuhan pokok kerap menjadi tantangan berat bagi para pekerja. Banyak orang merasa gaji bulanan hanya cukup untuk menyambung hidup tanpa menyisakan ruang untuk tabungan. Namun, pakar perencana keuangan, Andi Wijaya, menegaskan bahwa keterbatasan pendapatan bukanlah penghalang utama untuk menabung.
"Kunci utamanya bukan pada besaran gaji, melainkan kedisiplinan dalam perencanaan dan pengelolaan keuangan yang bijak," ujar Andi saat dihubungi, Selasa (6/5).
Menurutnya, langkah pertama yang krusial adalah menerapkan metode anggaran 50:30:20. Sebanyak 50 persen gaji dialokasikan untuk kebutuhan pokok, 30 persen untuk keinginan, dan 20 persen wajib disisihkan untuk tabungan atau investasi. Jika angka tersebut terasa berat, ia menyarankan penyesuaian menjadi 60:30:10 pada tahap awal.
Selain itu, pemisahan rekening antara dana operasional dan tabungan menjadi langkah preventif agar uang tidak terpakai untuk kebutuhan konsumtif. Andi juga menekankan pentingnya prinsip "menabung di awal" segera setelah gaji diterima, bukan menunggu sisa uang di akhir bulan.
"Banyak orang terjebak dalam gaya hidup yang tidak sesuai dengan kemampuan. Membedakan antara kebutuhan dan keinginan adalah fondasi dasar agar keuangan tetap sehat," tambahnya.
Untuk memantau arus kas, penggunaan aplikasi pencatat keuangan sangat disarankan guna mendeteksi pengeluaran kecil yang sering tidak disadari. Selain itu, pembentukan dana darurat harus menjadi prioritas agar pekerja tidak terjerat utang konsumtif saat menghadapi situasi mendesak.
Jika pendapatan dirasa masih sangat terbatas, mencari penghasilan tambahan melalui pekerjaan sampingan menjadi opsi realistis untuk mempercepat target keuangan. Dengan menetapkan tujuan finansial yang jelas, seperti dana pendidikan atau modal usaha, motivasi untuk menabung akan jauh lebih terjaga.
Andi mengingatkan bahwa kesalahan fatal yang sering dilakukan adalah mencampuradukkan seluruh dana dalam satu wadah dan mengabaikan catatan pengeluaran. Dengan perencanaan yang konsisten dan pengendalian diri yang kuat, kondisi keuangan pekerja UMR dipastikan dapat membaik secara bertahap.






