Rel Kereta Sumbar Perkuat Mobilitas dan Ekonomi Sumatra

Padang – Rel kereta api di Sumatera Barat bukan hanya menjadi sarana transportasi, tetapi juga bagian penting dari sejarah pembangunan daerah dan masih menopang mobilitas masyarakat hingga kini.

Jalur ini dahulu menghubungkan tambang batu bara Ombilin dengan Pelabuhan Emmahaven yang kini bernama Teluk Bayur, sekaligus membuka akses dari pesisir ke pedalaman Sumatera Barat melalui rute Pariaman, Padang Panjang, Bukittinggi, Payakumbuh, hingga Sawahlunto.

Dari jalur tersebut, berbagai pusat ekonomi tumbuh dan lanskap sosial budaya daerah ikut terbentuk.

Hingga sekarang, masyarakat masih memanfaatkan kereta api untuk berangkat ke sekolah, tempat kerja, bandara, pusat ekonomi, dan destinasi wisata.

Nilai sejarah itu kembali menguat di tengah arah kebijakan nasional untuk memperkuat konektivitas perkeretaapian di Pulau Sumatra.

Sumatera Barat pun memiliki modal besar berupa jaringan rel yang sudah terbangun, aset prasarana, dan layanan yang masih digunakan masyarakat.

Perkeretaapian di provinsi ini mulai berkembang pada akhir abad ke-19 untuk mendukung distribusi batu bara Ombilin.

Stasiun Padang dibangun pada 1889 sebagai simpul distribusi menuju Pelabuhan Emmahaven, disusul Stasiun Pulau Air pada 1891 yang diresmikan pada 1 Oktober 1892.

Setelah itu, jaringan rel berkembang ke Kayu Tanam, Padang Panjang, Solok, Sawahlunto, Pariaman, dan Naras.

Saat ini, KAI Divre II Sumatera Barat mengelola jaringan rel sepanjang 312,232 kilometer spoor, terdiri atas 110,910 kmsp jalur aktif dan 201,322 kmsp jalur nonaktif.

Operasionalnya ditopang 20 stasiun dan shelter penumpang serta 4 stasiun angkutan barang.

Layanan penumpang dijalankan melalui KA Pariaman Ekspres, KA Minangkabau Ekspres, dan KA Lembah Anai.

Sementara itu, angkutan barang melayani distribusi semen dan klinker pada relasi Indarung-Bukit Putus.

Kepercayaan masyarakat terhadap kereta api juga terus meningkat.

Sepanjang Semester I 2026, KAI Divre II Sumatera Barat melayani 1.140.586 pelanggan, sedangkan angkutan barang mencapai 556.465 ton, terdiri dari 362.740 ton semen dan 193.725 ton klinker.

Dalam lima tahun terakhir, jumlah pelanggan naik dari sekitar 1,09 juta pada 2021 menjadi 1.978.241 pelanggan pada 2025, atau tumbuh sekitar 81 persen.

KA Pariaman Ekspres menjadi layanan dengan jumlah pelanggan terbesar, sedangkan KA Lembah Anai mencatat kenaikan signifikan setelah penyesuaian relasi perjalanan pada 2026.

Potensi itu juga didukung pertumbuhan sektor pariwisata Sumatera Barat.

Sejumlah destinasi seperti Jam Gadang, Danau Singkarak, Sawahlunto, Padang Panjang, dan Bukittinggi dinilai berpeluang semakin terhubung melalui transportasi berbasis rel.

Di sisi lain, jalur nonaktif seperti Naras-Sungai Limau, Kayu Tanam-Padang Panjang-Bukittinggi, hingga Solok-Muaro Kalaban juga menjadi peluang pengembangan jaringan di masa depan.

Kepala Humas KAI Divre II Sumbar Reza Shahab mengatakan sejarah panjang perkeretaapian di Sumatera Barat menjadi modal penting untuk memperkuat konektivitas Pulau Sumatra.

“Perkeretaapian di Sumatera Barat punya nilai strategis, bukan hanya karena sejarahnya, tetapi juga karena manfaatnya masih dirasakan masyarakat sampai sekarang. Kereta api mendukung mobilitas harian, pariwisata, distribusi logistik, hingga akses ke bandara. Ini menunjukkan transportasi berbasis rel masih punya ruang sangat besar untuk terus dikembangkan,” ujar Reza, Selasa (21/7/2026).

Ia menambahkan, bertambahnya jumlah pelanggan dan volume angkutan barang menunjukkan kepercayaan masyarakat yang kian kuat terhadap kereta api.

“Jika pengembangan jaringan maupun reaktivasi jalur bisa direalisasikan bertahap sesuai perencanaan pemerintah, kami optimistis kereta api akan semakin berperan dalam memperkuat konektivitas antardaerah, meningkatkan efisiensi logistik, memperluas akses ke kawasan wisata, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. KAI Divre II Sumatera Barat siap mendukung pengembangan perkeretaapian sebagai bagian dari pembangunan transportasi nasional yang modern, terintegrasi, dan berkelanjutan,” kata Reza.

Dengan sejarah yang panjang, tingginya kepercayaan masyarakat, dan potensi pengembangan jaringan, Sumatera Barat dinilai berada pada posisi strategis untuk mendorong konektivitas perkeretaapian Pulau Sumatra yang lebih terintegrasi, efisien, dan berkelanjutan.

Komentar