Lhokseumawe – Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut melalui Integrated Terminal (IT) Lhokseumawe bersama Generasi Emas Indonesia (GESID) Halal Center Lhokseumawe dan RRI Lhokseumawe menggelar Seminar Halal Food & Tourism bertema “Peluang dan Tantangan dalam Pengembangan Ekosistem Halal Berkelanjutan” di Aula RRI Lhokseumawe, Kamis (25/6/2026).
Kegiatan ini diikuti 50 peserta, termasuk sembilan anggota kelompok UMKM binaan CSR IT Lhokseumawe serta pelaku UMKM dari berbagai sektor usaha di Kota Lhokseumawe.
Forum tersebut menjadi ruang pertemuan bagi dunia usaha, pemerintah, akademisi, media, dan masyarakat untuk memperkuat ekosistem halal, meningkatkan kualitas produk, memperluas akses pasar, serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang berkelanjutan.
Ketua Umum GESID Halal Center Lhokseumawe, Maimun Saleh, S.Pd., M.Pd., menegaskan pengembangan ekosistem halal membutuhkan keterlibatan banyak pihak agar pelaku usaha tidak hanya memenuhi aspek kehalalan produk, tetapi juga mampu meningkatkan daya saing di tingkat regional maupun nasional.
“Pengembangan ekosistem halal memerlukan kolaborasi berbagai pihak. Dengan sinergi itu, pelaku usaha diharapkan bukan hanya memenuhi standar kehalalan produk, tetapi juga semakin kompetitif sehingga mampu tumbuh dan bersaing di tingkat regional maupun nasional,” ujarnya.
Supervisor HSSE & Fleet Safety Pertamina Patra Niaga Integrated Terminal Lhokseumawe, Arnoldus Setyawan, mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan potensi ekonomi lokal yang berkelanjutan.
“Pertamina meyakini penguatan ekosistem halal dapat menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan daya saing UMKM sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Melalui kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, kami berharap terbentuk ekosistem yang saling mendukung agar produk lokal bisa berkembang secara berkelanjutan,” kata Arnoldus.
Sejumlah narasumber dari berbagai instansi turut hadir dalam seminar tersebut. Kepala RRI Lhokseumawe memaparkan peran media dalam mendukung pengembangan halal tourism, sedangkan Dinas Kelautan, Perikanan, Pertanian dan Pangan Kota Lhokseumawe menjelaskan potensi produk lokal, ketahanan pangan, dan keberlanjutan produk halal.
Dari sisi regulasi dan keagamaan, Kementerian Agama Kota Lhokseumawe menyampaikan materi mengenai sertifikasi halal.
Sementara itu, Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM membahas penguatan industri serta pengembangan UMKM halal yang berdaya saing.
Sebagai bentuk dukungan terhadap percepatan pengembangan ekosistem halal, acara ditutup dengan penyerahan sertifikat halal kepada salah satu UMKM lokal.
Penyerahan itu menjadi apresiasi sekaligus komitmen bersama untuk meningkatkan kualitas, daya saing, dan kepercayaan konsumen terhadap produk lokal.
Melalui kerja sama dengan GESID Halal Center dan RRI Lhokseumawe, Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut menegaskan pentingnya penerapan standar halal sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas produk dan daya saing UMKM.
Sinergi ini juga diharapkan memperkuat jejaring kerja antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat dalam membangun ekosistem halal yang inklusif dan berkelanjutan di Kota Lhokseumawe.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, Fahrougi Andriani Sumampouw, mengatakan agenda tersebut merupakan bagian dari komitmen Pertamina dalam mendorong pengembangan ekonomi masyarakat melalui penguatan kapasitas UMKM dan kolaborasi lintas sektor.
“Pengembangan ekosistem halal adalah salah satu bentuk pemberdayaan masyarakat yang sejalan dengan komitmen Pertamina dalam menciptakan nilai tambah bagi masyarakat. Kami meyakini kolaborasi antara pemerintah, akademisi, media, dunia usaha, dan komunitas menjadi kunci untuk memperkuat daya saing UMKM, sehingga mereka tidak hanya mampu memenuhi standar kehalalan produk, tetapi juga punya peluang lebih besar untuk tumbuh dan bersaing di pasar yang lebih luas,” ujar Fahrougi.
Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pertamina yang berfokus pada pengembangan kapasitas masyarakat dan pemberdayaan ekonomi lokal.
Inisiatif tersebut juga sejalan dengan komitmen perusahaan dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 8 melalui penguatan kapasitas UMKM, SDG 9 melalui peningkatan daya saing industri halal, SDG 11 melalui pengembangan potensi ekonomi lokal, serta SDG 17 melalui kolaborasi multipihak dalam membangun ekosistem halal yang berkelanjutan.



Komentar