Jakarta – Industri otomotif Indonesia menghadapi tantangan serius dengan penjualan mobil baru yang terus merosot, sementara pasar mobil bekas justru menunjukkan peningkatan signifikan. Data dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) mengungkapkan bahwa penjualan mobil baru telah menurun dari 1,22 juta unit pada 2013 menjadi sekitar 866 ribu unit pada 2024.
Tren penurunan ini berbanding terbalik dengan minat masyarakat terhadap mobil bekas. Faktor ekonomi menjadi penyebab utama pergeseran ini. Kenaikan harga mobil baru dan kebijakan kredit yang ketat membuat konsumen beralih ke mobil bekas yang dianggap lebih ekonomis.
"Dengan anggaran yang sama, konsumen bisa mendapatkan mobil bekas dengan spesifikasi yang lebih tinggi dibandingkan mobil baru kelas entry-level," ujar seorang pengamat otomotif, yang enggan disebutkan namanya, Kamis (16/05/2024).
Kualitas mobil bekas yang semakin baik juga menjadi daya tarik. Banyak unit yang masih dalam kondisi prima dan usia relatif muda tersedia di pasar. Hal ini membuat konsumen merasa lebih percaya diri untuk memilih mobil bekas.
Pergeseran perilaku konsumen ini memaksa para pelaku industri otomotif untuk meninjau kembali strategi harga dan inovasi produk. Produsen perlu mencari cara agar produk mereka tetap terjangkau oleh daya beli masyarakat Indonesia.
Di sisi lain, geliat pasar mobil bekas diharapkan dapat menjaga perputaran ekonomi di sektor transportasi. Meskipun tantangan ekonomi global masih membayangi, pasar mobil bekas memberikan harapan bagi keberlangsungan industri otomotif di Indonesia.






