Padang – PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divisi Regional II Sumatera Barat memeriksa lintas di petak jalan Stasiun Padang-Teluk Bayur hingga Stasiun Bukit Putus, Rabu (5/8/2026), untuk memastikan keselamatan operasional di tengah potensi gangguan cuaca ekstrem.
Pemeriksaan dipimpin Kepala KAI Divre II Sumbar Lutfi Wijaya bersama seluruh jajaran manajemen sebagai agenda rutin untuk menjaga prasarana perkeretaapian tetap andal dan aman.
Dalam kegiatan itu, rombongan menelusuri kondisi rel, bantalan, ballast, wesel, sistem persinyalan, keamanan emplasemen, aset perusahaan, perlintasan sebidang, serta drainase di titik-titik rawan genangan dan banjir.
Langkah tersebut dilakukan untuk mendeteksi potensi risiko sejak awal agar penanganan bisa segera dijalankan sebelum mengganggu keselamatan perjalanan kereta api.
Manajemen juga memantau kesiapan operasional di sejumlah stasiun guna memastikan sarana dan prasarana pelayanan dalam kondisi optimal.
KAI menegaskan pemeriksaan itu ditujukan agar perjalanan kereta api tetap berlangsung aman, selamat, nyaman, dan andal.
Di sela kegiatan, jajaran manajemen menyapa warga di sekitar jalur rel sekaligus menggelar sosialisasi keselamatan.
Masyarakat diminta tidak beraktivitas di jalur kereta api maupun area yang dapat mengganggu operasional karena berisiko membahayakan keselamatan diri dan perjalanan kereta api.
Sebelum pemeriksaan dimulai, Lutfi memimpin safety briefing di Stasiun Padang dan menekankan bahwa budaya keselamatan harus menjadi prioritas utama seluruh insan KAI.
Ia juga meminta jajaran meningkatkan kewaspadaan, disiplin menjalankan prosedur, aktif mengenali potensi bahaya, dan segera menindaklanjuti setiap temuan melalui Identifikasi Bahaya dan Penilaian Risiko (IBPR), terutama di wilayah yang rawan gangguan alam dan cuaca ekstrem.
Kepala Humas KAI Divre II Sumbar Reza Shahab mengatakan pemeriksaan lintas merupakan program rutin berkala sebagai upaya preventif menjaga keselamatan operasional kereta api.
“Melalui pemeriksaan langsung di lapangan, kami memastikan seluruh aspek prasarana siap beroperasi sehingga perjalanan kereta api tetap selamat, aman, nyaman, dan tepat waktu bagi pelanggan,” kata Reza.
Selain pemeriksaan prasarana, KAI Divre II Sumbar juga terus memperkuat edukasi kepada masyarakat di sekitar jalur kereta api dan perlintasan sebidang.
Sosialisasi itu dilakukan untuk meningkatkan kesadaran warga agar mematuhi aturan keselamatan dan mencegah kecelakaan di perlintasan.
Reza menyebut setiap hari KAI Divre II Sumbar mengoperasikan 28 perjalanan kereta api penumpang serta 24 perjalanan kereta api barang yang mengangkut klinker dan semen.
Dengan frekuensi perjalanan yang tinggi, masyarakat diminta berhenti, melihat ke kanan dan kiri, lalu memastikan tidak ada kereta api yang melintas sebelum menyeberang.
“Kami mengimbau pengguna jalan agar selalu mematuhi rambu-rambu lalu lintas, berhenti saat sinyal peringatan berbunyi atau palang pintu mulai menutup, dan mengutamakan perjalanan kereta api di perlintasan sebidang. Keselamatan adalah tanggung jawab bersama,” ujarnya.
Ia menambahkan, menerobos palang pintu, mengabaikan Semboyan 35 atau isyarat suara lokomotif, serta melanggar rambu lalu lintas di perlintasan sebidang merupakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian dan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
Menurut dia, tindakan itu tidak hanya membahayakan diri sendiri dan pengguna jalan lain, tetapi juga dapat berimplikasi hukum, termasuk tuntutan ganti rugi bila memicu kecelakaan atau mengganggu operasional perjalanan kereta api.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan safety talk untuk mengevaluasi hasil pemeriksaan lintas dan memastikan seluruh temuan segera ditindaklanjuti sesuai standar keselamatan yang berlaku.
“KAI Divre II Sumbar akan terus mengedepankan langkah preventif melalui pemeriksaan prasarana berkala, penguatan budaya keselamatan, dan edukasi kepada masyarakat. Sinergi semua pihak menjadi kunci untuk mewujudkan perjalanan kereta api yang selamat, aman, lancar, dan nyaman,” tutup Reza.



Komentar