Jembatan Anduriang Roboh, Warga Padang Pariaman Terpaksa Bertaruh Nyawa Naik Rakit

PADANG PARIAMAN – Akses transportasi utama yang menghubungkan Nagari Anduriang dengan Nagari Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman, lumpuh total akibat robohnya jembatan penghubung pascabencana hidrometeorologi akhir November 2025 lalu. Kini, warga terpaksa menggunakan rakit kayu dan drum bekas untuk menyeberangi Sungai Batang Anai demi aktivitas sehari-hari.

Putusnya infrastruktur vital ini memicu hambatan ekonomi yang signifikan. Meski tersedia jalur alternatif, masyarakat harus menempuh waktu perjalanan 15 menit lebih lama dibandingkan jalur utama yang kini tidak dapat dilalui.

Sekretaris Daerah Kabupaten Padang Pariaman, Hendra Aswara, mengakui bahwa penggunaan rakit merupakan pilihan terakhir yang berisiko tinggi bagi warga. "Mengingat ini adalah akses paling dekat, warga kini mengandalkan rakit. Kami menyadari ini risiko tinggi, namun ini adalah satu-satunya akses cepat menuju wilayah seberang," ujar Hendra, Rabu (6/5/2026).

Pemerintah daerah saat ini tengah mengupayakan percepatan pembangunan kembali jembatan permanen yang diperkirakan menelan anggaran hingga Rp40 miliar. Hendra menjelaskan bahwa pihaknya telah berkoordinasi intensif dengan pemerintah pusat, termasuk Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), agar proyek tersebut segera masuk dalam agenda rehabilitasi dan rekonstruksi.

Terkait pendanaan, pemerintah daerah membagi wewenang penanganan. Pembangunan jembatan darurat akan ditanggung melalui APBD Kabupaten Padang Pariaman, sementara pembangunan jembatan permanen sangat bergantung pada kucuran dana APBN.

"Kami sangat berharap bantuan pusat segera turun agar jembatan permanen bisa dibangun, sehingga akses masyarakat kembali normal dan aman," pungkas Hendra.

REKOMENDASI