Padang – Bank Indonesia (BI) memproyeksikan inflasi Sumatera Barat (Sumbar) akan mencapai target nasional 2,5 persen (plus minus 1 persen) pada tahun 2026. Tren penurunan inflasi didorong oleh perbaikan pasokan dan distribusi pangan.
Kepala Perwakilan BI Sumbar, M Abdul Madjid Ikram, menyatakan bahwa inflasi tahunan Sumbar diperkirakan terus menurun dan kembali ke kisaran target nasional. "Ke depan inflasi tahunan Sumatera Barat diperkirakan akan terus menurun dan kembali berada pada kisaran target inflasi nasional sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen," ujarnya, Kamis (5/3/2026).
Februari 2026, inflasi tahunan Sumbar tercatat 4,39 persen (yoy), naik dari 3,92 persen (yoy) di Januari. Kenaikan ini dipicu efek basis rendah dari diskon tarif listrik yang berlaku hingga Februari 2025. Tarif listrik naik 96,51 persen secara tahunan. Komoditas lain penyumbang inflasi adalah emas perhiasan, daging ayam ras, beras, dan mobil.
BI memperkirakan tekanan inflasi akan mereda seiring panen yang meningkatkan pasokan pangan dan menekan harga. Perbaikan infrastruktur jalan pascabencana juga memperlancar distribusi barang, menjaga stabilitas harga konsumen.
Meski tren menurun, BI mengingatkan risiko peningkatan permintaan pangan saat Ramadan dan Idul Fitri, konsumsi beras yang tinggi, dan potensi pasokan pangan ke luar daerah akibat perbedaan harga. Faktor eksternal seperti kenaikan harga emas dan komoditas global, serta tekanan nilai tukar rupiah akibat geopolitik global, juga berpotensi memengaruhi stabilitas harga.
BI bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) memperkuat sinergi pengendalian inflasi melalui program stabilisasi harga, operasi pasar, gerakan pangan murah, kerja sama antar daerah, dan peningkatan produktivitas pertanian.






