Fidel Miro: Antrean BBM Sumbar Dipicu Hambatan Distribusi

Padang – Antrean kendaraan di sejumlah SPBU di Sumatera Barat dinilai lebih disebabkan terganggunya distribusi BBM akibat kendala infrastruktur transportasi, bukan karena pasokan yang habis.

Pakar Transportasi Universitas Bung Hatta, Fidel Miro, mengatakan hambatan di jalur angkutan membuat pengiriman kebutuhan masyarakat, termasuk BBM ke SPBU, menjadi tersendat.

Menurut dia, akses transportasi yang terganggu membuat waktu tempuh kendaraan logistik lebih panjang dari biasanya.

“Masalah utamanya bukan pada ketersediaan BBM, tetapi pada distribusinya yang terhambat karena akses transportasi terganggu,” ujar Fidel, Kamis (9/7).

Ia menyebut dampak gangguan itu terlihat pada rute menuju Solok, Padangpariaman, Bukittinggi, dan Payakumbuh yang kini memakan waktu lebih lama.

Jika biasanya perjalanan ditempuh sekitar tiga hingga lima jam, saat ini waktu tempuh meningkat menjadi lima hingga tujuh jam.

Kondisi tersebut membuat mobil tangki BBM dan kendaraan logistik lain memerlukan waktu lebih lama untuk menyelesaikan satu siklus pengiriman.

Akibatnya, frekuensi distribusi ikut menurun dan berpengaruh pada kecepatan pasokan ke berbagai daerah.

Fidel menilai situasi itu merupakan konsekuensi yang lazim terjadi ketika infrastruktur transportasi terganggu.

Dampaknya, kata dia, tidak hanya terasa pada distribusi BBM, tetapi juga pada pengiriman bahan pokok, aktivitas industri, dan layanan transportasi yang bergantung pada lancarnya arus barang.

Karena itu, percepatan perbaikan jalan dan jembatan dinilai menjadi langkah penting untuk memulihkan distribusi sekaligus mobilitas masyarakat.

“Kalau akses transportasi kembali normal, waktu tempuh akan lebih singkat, distribusi menjadi lancar, dan rantai pasok bisa berjalan optimal,” katanya.

Sementara itu, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat bersama Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN), Dinas Perhubungan, Pertamina Patra Niaga, Polda Sumbar, dan sejumlah instansi terkait terus melakukan penanganan.

Langkah yang dijalankan meliputi rekayasa lalu lintas, percepatan perbaikan Jembatan Jurai di Bungus, pengaturan arus kendaraan distribusi, serta optimalisasi operasional Terminal BBM Teluk Kabung untuk menjaga kelancaran pasokan BBM ke daerah terdampak.

Komentar