Padang Pariaman – Ibnu, 17 tahun, mulai mengenal suara setelah seumur hidup hidup dalam diam. Siswa SLB Mutiara Qalbu di Kuranji Hulu, Kecamatan Sungai Limau, Padang Pariaman itu sebelumnya diduga terlahir tuli, namun kini bisa mendengar panggilan orang tuanya hingga desiran angin di pepohonan berkat alat bantu dengar yang diberikan Tim Penggerak PKK Padang Pariaman.
Kebahagiaan Ibnu terlihat saat Ketua TP PKK Padang Pariaman, Ny. Hj. Nita Cristanti Azis, menyalaminya pada Jumat (3/7). Dengan terbata-bata, Ibnu mengucapkan, “Terimakasih buk,” sambil terus belajar berbicara dan mengenali nama-nama benda serta makhluk di sekitarnya.
Sebelum membantu Ibnu, Nita lebih dulu memberi dukungan serupa kepada Udin, pria tunarungu berusia 22 tahun. Setelah memakai alat bantu dengar, Udin kini bisa mendengar suara ayam berkokok di samping rumahnya.
Bantuan untuk Udin tidak hanya berhenti pada alat bantu dengar. Rumahnya yang pernah tertimpa pohon dan rusak dimakan rayap juga telah dibedah oleh TP PKK Padang Pariaman, sehingga kini ia tinggal bersama ibu dan kakaknya di rumah yang lebih layak. Ibu dan kakak Udin juga diketahui tunarungu.
Seluruh bantuan tersebut tidak berasal dari APBD, melainkan dari donasi masyarakat yang dihimpun TP PKK melalui badoncek. Dengan cara yang sama, organisasi itu disebut telah membedah tujuh rumah tidak layak huni di daerah tersebut.
Nita menjelaskan, gerakan ini berawal dari pengalamannya saat membantu bedah rumah warga bernama Bewok di Kecamatan VII Koto Sungai Sariak. Dari pertemuan itu, ia mengetahui bahwa Udin merupakan anak Bewok.
Selama ini, keluarga Udin meyakini anak tersebut mengalami ketulian total sejak lahir. Namun, setelah diperiksa dokter spesialis THT, ternyata masih ada sisa pendengaran yang bisa dimaksimalkan dengan alat bantu dengar.
“Ketika pertama kali dipakaikan alat bantu dengar, suara yang paling awal didengar Udin adalah kokok ayam. Dia sampai meneteskan air mata karena terharu. Dari situ saya berpikir, mungkin masih ada anak lain dengan kondisi serupa,” kata Nita.
Berangkat dari temuan itu, TP PKK kemudian menggandeng dokter spesialis THT untuk memeriksa siswa-siswa di SLB Mutiara Qalbu. Hasil pemeriksaan menunjukkan ada tiga siswa yang masih memiliki potensi pendengaran dan dapat dibantu dengan alat bantu dengar.
“Dari hasil pemeriksaan, kami memprioritaskan Ibnu karena usianya sudah 17 tahun. Sangat disayangkan waktu yang terbuang begitu lama, padahal pendengarannya ternyata masih bisa dibantu,” ujarnya.
Nita berharap pengalaman Ibnu menjadi pelajaran bagi orang tua agar tidak langsung menyimpulkan anak mengalami ketulian permanen tanpa pemeriksaan medis yang menyeluruh.
“Banyak orang tua sejak awal menerima anaknya tidak bisa mendengar lalu tidak memeriksakannya lagi. Padahal, bisa saja masih ada harapan lewat alat bantu dengar. Kami ingin langkah kecil ini menjadi inspirasi agar daerah lain juga melakukan hal serupa di sekolah-sekolah luar biasa,” katanya.
Bupati H. John Kenedy Azis membenarkan pandangan itu. Ia menilai langkah TP PKK Padang Pariaman menjadi bukti bahwa kebersamaan dan kepedulian sosial mampu menghadirkan perubahan nyata, terutama bagi anak-anak penyandang disabilitas.




Komentar