Padang – Unjuk rasa memperingati 80 tahun kemerdekaan Indonesia pada 1 September 2025 diwarnai kericuhan yang menewaskan seorang pengemudi ojek online bernama Affan Kurniawan. Aksi yang dipicu ketidakpercayaan publik terhadap DPR dan tuntutan transparansi ini memicu pertanyaan tentang efektivitas demonstrasi sebagai saluran aspirasi.
Kematian Affan Kurniawan akibat tindakan represif aparat memicu kemarahan massa dan berujung pada kerusuhan di sejumlah daerah. Massa melakukan pembakaran gedung pemerintah dan penjarahan.
Di tengah kekacauan, gerakan 17+8 Tuntutan Rakyat muncul dan viral di media sosial. Gerakan yang menggunakan warna pink dan hijau sebagai simbol perlawanan ini mendapat dukungan dari berbagai organisasi masyarakat sipil dan figur publik, namun juga menghadapi pembatasan ruang ekspresi.
Namun, tidak semua demonstrasi berakhir dengan kekerasan. Di Sumatra Barat, ribuan mahasiswa dan organisasi kepemudaan menggelar aksi damai di depan Gedung DPRD, menyampaikan aspirasi tanpa menimbulkan kerusakan atau korban jiwa.
Peristiwa ini memicu perdebatan tentang solusi mengatasi krisis kepercayaan publik, termasuk reformasi internal DPR dan peningkatan partisipasi masyarakat dalam proses kebijakan. Masyarakat juga diingatkan tentang pentingnya objektivitas dalam memilih wakil rakyat berdasarkan kompetensi, bukan hanya janji palsu.







Komentar