TBM Sumbar Dorong Kreativitas Anak Lewat Literasi Aktif

Padang – Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di Sumatera Barat didorong untuk tidak berhenti sebagai tempat menyimpan bahan bacaan, melainkan menjadi pusat aktivitas literasi yang mampu menumbuhkan kreativitas masyarakat, terutama anak-anak.

Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat, Jumaidi, MPd, mengatakan TBM kini telah hadir hingga ke pelosok nagari atau desa. Menurut dia, tantangan berikutnya adalah memastikan TBM benar-benar hidup dan memberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

“TBM jangan hanya dimaknai sebagai tempat membaca. TBM perlu menjadi ruang untuk menumbuhkan kreativitas anak-anak, seperti belajar menulis, bercerita, menggambar, lalu menceritakan kembali hasil gambar atau pengalaman sehari-hari,” ujarnya di Padang, Jumat (26/6).

Ia menilai, kebiasaan menulis pengalaman harian bisa menjadi langkah sederhana untuk membangun minat literasi. Jika dilakukan secara rutin, misalnya satu halaman setiap hari, seorang anak dapat menghasilkan sekitar 30 halaman tulisan dalam sebulan.

“Kebiasaan kecil seperti itu akan membuat anak lebih dekat dengan aktivitas menulis. Dari sana kreativitas mereka akan berkembang,” katanya.

Jumaidi juga menyoroti pengaruh teknologi terhadap kebiasaan anak. Menurut dia, anak-anak saat ini lebih sering mengetik melalui gawai atau laptop dibanding menulis tangan, sehingga kemampuan motorik halus mereka berpotensi menurun.

“Anak-anak sekarang lebih sering menggunakan gadget, jadi keterampilan motoriknya terbatas. Bahkan tulisan tangan mereka mulai sulit dibaca. Padahal menulis manual juga melatih motorik halus dan kemampuan berpikir,” jelasnya.

Karena itu, TBM dinilai dapat menjadi ruang untuk menjaga keseimbangan antara penggunaan teknologi digital dan aktivitas literasi yang melibatkan keterampilan motorik, kreativitas, serta interaksi sosial.

Ia menegaskan, tidak semua masyarakat memiliki akses mudah ke perpustakaan daerah. Dalam situasi seperti itu, TBM menjadi sangat strategis sebagai ujung tombak layanan literasi di tingkat nagari maupun desa.

“Kalau kita hanya memikirkan perpustakaan daerah, bagaimana dengan masyarakat di wilayah pinggiran? Di situlah peran TBM. Mereka adalah pilar-pilar perpustakaan di tengah masyarakat,” ujarnya.

Jumaidi bahkan menyebut TBM sebagai “lilin-lilin cahaya literasi” yang menerangi masyarakat hingga ke daerah terpencil. Peran itu, kata dia, semakin kuat dengan dukungan Relawan Literasi Masyarakat (Relima) yang aktif mendampingi pengelolaan TBM di berbagai daerah.

Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, lanjutnya, terus membina pengelola TBM melalui berbagai program peningkatan kapasitas. Di sisi lain, pemerintah melalui Perpusnas juga mendorong program “Satu Nagari (desa), Satu Pustaka” agar setiap nagari memiliki ruang literasi yang mudah diakses masyarakat.

“Kami terus membina TBM-TBM yang jumlahnya cukup banyak. Harapannya, setiap nagari memiliki pusat literasi yang aktif sehingga budaya membaca dan belajar masyarakat semakin meningkat,” katanya.

Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi untuk meningkatkan kegemaran membaca masyarakat Sumatera Barat. Saat ini, Sumbar berada di peringkat kedelapan nasional untuk tingkat kegemaran membaca dan di posisi keempat nasional dalam Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM).

Menurut Jumaidi, capaian itu tidak lepas dari makin banyaknya fasilitas literasi yang hadir di tengah masyarakat, termasuk perpustakaan dan TBM yang terus berkembang.

“Indikator pembangunan literasi salah satunya adalah keberadaan perpustakaan dan layanan literasi yang bisa diakses masyarakat. Karena itu, kami berharap TBM terus tumbuh menjadi pusat belajar, pusat kreativitas, sekaligus ruang pemberdayaan masyarakat,” tutupnya.

Komentar

REKOMENDASI