Padang – SMK 11 Maret Bekasi kini masuk dalam program Kurikulum Unggulan yang dijalankan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) melalui program tanggung jawab sosial perusahaan di bidang pendidikan.
Kepala Program Teknik Komputer Jaringan SMK 11 Maret Bekasi, Muhammad Andika Prawira, menyampaikan hal itu dalam zoom meeting bersama 15 penerima Journalism Fellowship on CSR Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP) dan TBIG.
Andika mengatakan, berdasarkan data BPS 2020, lulusan SMK tercatat sebagai penyumbang terbesar angka pengangguran di Indonesia dibanding lulusan SMP dan SMA.
Ia menilai kondisi tersebut terjadi karena belum sinkronnya dunia industri dan dunia pendidikan, terutama di sektor teknologi.
“SMK negeri memang mendapat dukungan pemerintah, baik untuk sarana prasarana maupun pelatihan. Sementara SMK swasta seperti kami tidak memperoleh fasilitas itu, sehingga harus mengandalkan kemampuan sekolah sendiri,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sebelumnya sekolah hanya menggunakan kurikulum pemerintah.
Setelah menjalin kerja sama melalui program CSR TBIG, sekolah mulai mengetahui kebutuhan kompetensi industri, mulai dari fiber optic hingga soft skill, sehingga kurikulum bisa disesuaikan.
Andika menegaskan, SMK 11 Maret Bekasi kini tidak lagi semata-mata memakai kurikulum pemerintah, tetapi mengombinasikannya dengan kurikulum dari TBIG.
Tahun ini, Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) SMK 11 Maret juga menggelar uji kompetensi BNSP dengan materi utama rancangan fiber optik yang bersumber dari kurikulum CSR TBIG.
Ia turut mengucapkan terima kasih karena TBIG setiap tahun mempercayakan sekolahnya mengikuti pelatihan dan program magang.
Menurut Andika, sejumlah alumninya kini telah bekerja di salah satu mitra TBIG.
Karena itu, kata dia, tujuan utama pendidikan di sekolah tersebut adalah memastikan lulusan terserap dan siap masuk dunia kerja.
Ia menambahkan, sekolah juga rutin menggelar kunjungan industri setiap tahun.
“Kami membawa siswa kelas XI untuk kunjungan industri agar sebelum PKL mereka bisa merasakan langsung seperti apa dunia industri,” ujarnya.
Dalam kegiatan itu, siswa melihat langsung dunia telekomunikasi serta budaya kerjanya.
Program tersebut telah berjalan dua tahun dan memberi bekal soft skill serta pengetahuan K3 yang penting di dunia kerja.
Selain itu, TBIG juga menggelar pelatihan daring yang diikuti siswa secara antusias.
Salah satu peserta, George Christian Imanuel Anin dari SMK 11 Maret Bekasi, mengaku mendapat pengalaman baru saat mengikuti pelatihan di TBIG.
“Kesan pertama saya saat pelatihan di sana, seperti inilah bekerja di industri telekomunikasi dan jaringan. Saya mendapat pengetahuan hard skill dan soft skill,” kata George pada 2025.
Ia menambahkan, selama pelatihan dirinya juga dikenalkan pada alat fiber optic dan praktik menyambung kabel pelanggan yang putus.
Siswa SMKN 7 Jakarta, Gazes Riwu Lakka, juga menyampaikan pengalaman serupa.
“Saya mendapat pengalaman mengikuti proses kerja langsung, ditambah pengenalan K3, teknologi, disiplin, dan kerja sama dalam bekerja,” ujarnya usai mengikuti pelatihan dan kunjungan industri ke TBIG pada 2024 dan 2025.
Head of CSR Department TBIG, Arief Wibisono, menegaskan program CSR TBIG di pilar pendidikan mengusung konsep Bangun Cerdas Bersama.
Tujuannya adalah memperkuat link and match pendidikan dan industri, menguatkan SMK/SMA, meningkatkan kompetensi guru, mengembangkan hard skill dan soft skill, serta meningkatkan employability lulusan.
Program utama yang dijalankan meliputi kurikulum unggulan SMK, pelatihan fiber optic dan FTTH, pelatihan guru, kunjungan industri dan TBIG Lab, serta program magang dan pelatihan vokasi.
Melalui pilar pendidikan, TBIG juga mengembangkan kurikulum unggulan bagi siswa SMK dan guru untuk meningkatkan aksesibilitas serta kualitas pendidikan.
Arief mengatakan, program itu memberikan pelatihan praktik dan teori soal fiber optik dan FTTH dengan melibatkan tenaga ahli internal perusahaan.
Untuk kunjungan industri, TBIG menggelarnya di TBIG Lab agar siswa SMK dapat belajar langsung menggunakan perangkat aktif.
Hingga kini, program tersebut telah diikuti 3.293 siswa dari 64 sekolah di 14 provinsi.
Selain itu, ada 122 siswa magang, 84 siswa terserap sebagai tenaga kerja, 17 mitra kerja sama, 105 guru peserta program, dan 22.829 siswa penerima manfaat.
“TBIG percaya bahwa membangun infrastruktur digital harus berjalan beriringan dengan membangun SDM Indonesia,” kata Arief.




Komentar