Jakarta – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memastikan hantavirus bukanlah ancaman baru bagi masyarakat Indonesia. Penyakit yang ditularkan melalui tikus dan celurut ini tercatat telah terdeteksi di Tanah Air sejak tahun 1991, menyusul perhatian global yang kembali tertuju pada virus ini pasca-wabah di kapal pesiar MV Hondius.
Plt Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, menjelaskan bahwa tipe hantavirus yang ditemukan di Indonesia adalah Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS). Hingga saat ini, pihaknya menegaskan belum ditemukan bukti adanya penularan virus tipe HFRS antarmanusia.
"Hantavirus dengan tipe klinis HFRS telah ditemukan di Indonesia sejak 1991," ujar Andi.
Data Kemenkes mencatat sebanyak 23 kasus hantavirus terjadi di Indonesia sepanjang periode 2024 hingga 2026. Dari jumlah tersebut, 20 pasien dinyatakan sembuh, sementara tiga orang lainnya meninggal dunia. Kasus terbanyak tercatat pada tahun 2025 dengan 17 temuan, disusul lima kasus pada 2026 dan satu kasus pada 2024.
Penularan virus ini terjadi melalui kontak langsung dengan ekskresi atau sekresi tikus dan celurut yang terinfeksi. Menurut Andi, pola penyebaran serupa juga ditemukan di wilayah Asia dan Eropa.
Pakar Penyakit Menular dari University of Michigan Health, Emily Abdoler, menyoroti tantangan dalam deteksi dini penyakit ini. Ia menyebut gejala hantavirus sering kali samar, sehingga sulit dikenali pada tahap awal. Meski tergolong jarang, Emily memperingatkan bahwa tingkat kematian akibat infeksi ini bisa mencapai 40 persen.
"Tingkat kematian yang tinggi terjadi karena virus ini menyerang organ vital seperti paru-paru dan ginjal," jelas Emily.






