Bukittinggi – Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) melanda Kota Bukittinggi dan sekitarnya, Sumatera Barat, akibat bencana hidrometeorologi yang memutus akses utama ke wilayah tersebut. Bencana ini menyebabkan jalur distribusi logistik terhambat dan memicu kekhawatiran masyarakat.
Curah hujan ekstrem menyebabkan longsor, banjir bandang, dan pergerakan tanah. Akibatnya, akses vital yang menghubungkan Bukittinggi dengan daerah lain lumpuh total.
Jalur utama Padang-Bukittinggi via Padang Panjang terputus akibat longsor di Lembah Anai dan Jembatan Kembar Tanah Datar. Jalur alternatif seperti Malalak, serta akses menuju Lubuk Basung dan Pasaman, juga terputus di beberapa titik.
Pantauan di lapangan menunjukkan antrean kendaraan mulai terlihat di SPBU yang masih memiliki sisa stok BBM. Beberapa SPBU di Kota Bukittinggi dan sekitarnya mulai mengalami penipisan stok, bahkan kehabisan BBM jenis Pertalite.
Di SPBU Simpang Yarsi, misalnya, hanya tersisa Pertamax pada Kamis (27/11) sore, sementara Pertalite sudah habis sejak siang. Kondisi serupa terjadi di SPBU Bengkaweh.
Pemerintah Provinsi Sumatera Barat telah menetapkan status Tanggap Darurat Bencana hingga awal Desember, mengingat potensi cuaca ekstrem masih tinggi. Upaya evakuasi dan pembersihan material terus dilakukan, namun terhambat kondisi cuaca.



Komentar