Pulau Punjung – Penantian lebih dari 15 tahun warga Nagari Koto Gadang, Kecamatan Koto Besar, akhirnya terbayar setelah Jalan Poros Koto Gadang kembali diaspal pada masa kepemimpinan Bupati Dharmasraya Annisa Suci Ramadhani.
Pekerjaan itu terlaksana melalui kolaborasi pemerintah daerah, Pemerintah Nagari Koto Gadang, dan sejumlah perusahaan yang beroperasi di wilayah tersebut lewat program Corporate Social Responsibility (CSR).
Pengaspalan dimulai secara simbolis pada Senin (6/7/2026) dan diresmikan oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Dharmasraya, Yefrinaldi, yang mewakili Bupati Dharmasraya.
Sejumlah pejabat hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan Imam Mahfuri, Kepala Dinas DPMPTSP Naldi, Kepala Dinas PUPR Zakirman, Wali Nagari Koto Gadang Mesra Weni, Ketua Bamus Azwir, tokoh masyarakat, perwakilan perusahaan, serta Bhabinkamtibmas setempat.
Puluhan warga juga memenuhi bahu jalan untuk menyaksikan langsung dimulainya pengaspalan.
Begitu Yefrinaldi menandai pengerjaan dimulai, paver, tandem roller, Pneumatic Tire Roller (PTR), dan sejumlah alat berat lain langsung bergerak menghamparkan aspal di badan jalan.
Warga yang hadir tampak gembira menyambut proses itu.
Bagi masyarakat, dimulainya pengerjaan menjadi tanda bahwa harapan panjang untuk kembali menikmati jalan yang mulus mulai terwujud.
Jalan Poros Koto Gadang pertama kali diaspal pada 1996.
Sejak itu, kondisi jalan terus memburuk dan tidak lagi mendapat penanganan menyeluruh.
Selama lebih dari 15 tahun, warga memperjuangkan perbaikan ruas tersebut karena menjadi akses penting bagi mobilitas masyarakat, kegiatan ekonomi, serta distribusi hasil pertanian dan perkebunan.
Wali Nagari Koto Gadang Mesra Weni menyampaikan apresiasi kepada Bupati Dharmasraya Annisa Suci Ramadhani atas perannya mendorong terbangunnya kolaborasi antara pemerintah daerah dan perusahaan.
Ia menilai kegigihan bupati dalam mengajak perusahaan peduli terhadap masyarakat ikut menguatkan semangat pemerintah nagari dan warga untuk terus memperjuangkan perbaikan jalan itu.
“Bupati selalu mengingatkan bahwa perusahaan yang memperoleh manfaat dari daerah ini juga harus ikut menghadirkan manfaat bagi masyarakat. Perusahaan untung, masyarakat juga harus ikut sejahtera,” kata Mesra Weni, Selasa (7/7/2026).
Dalam sambutan Bupati Dharmasraya yang dibacakan Yefrinaldi, pembangunan Jalan Poros Koto Gadang disebut sebagai bagian dari lima titik pembangunan dan perbaikan jalan dengan skema CSR yang saat ini berjalan di Kabupaten Dharmasraya.
Yefrinaldi menjelaskan, gagasan pembangunan melalui kolaborasi dengan dunia usaha merupakan inisiatif Bupati Annisa Suci Ramadhani yang sejak awal menyadari keterbatasan fiskal daerah, sementara kebutuhan infrastruktur masih sangat besar.
Dalam situasi itu, bupati memilih mencari terobosan dengan menjalin kemitraan bersama perusahaan melalui pemanfaatan dana CSR.
Para pimpinan perusahaan kemudian diajak berdialog secara terbuka mengenai kebutuhan masyarakat terhadap pembangunan jalan.
Mereka juga diyakinkan bahwa infrastruktur yang baik tidak hanya bermanfaat bagi warga, tetapi juga mendukung kelancaran operasional dan distribusi perusahaan.
Menurut Yefrinaldi, membangun komitmen itu bukan proses singkat.
Ia menyebut diperlukan komunikasi intensif, pendekatan persuasif, dan kepercayaan yang dibangun bertahap hingga perusahaan-perusahaan akhirnya bersedia bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Dharmasraya.
Humas PT Incasi Raya Monofri, didampingi General Affairs PT TKA Syaiful R., mengatakan sedikitnya enam perusahaan terlibat dalam pembangunan jalan tersebut dan pelaksanaannya dilakukan bertahap sesuai kemampuan masing-masing perusahaan.
Ia menjelaskan, sesuai MoU terdapat 6 kilometer jalan yang dikerjakan melalui skema kolaborasi bersama enam perusahaan, yakni PT Incasi Raya Grup yang meliputi Incasi Unit Pangian, PT Bina Pratama Sakato Jaya, PT SMP, PT TKA, PT KSI, serta KUD Sinamar Sakato Jaya.
Kolaborasi itu diharapkan dapat menjadi model sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha dalam mempercepat pembangunan infrastruktur, sekaligus menunjukkan bahwa keterbatasan anggaran tidak menghalangi hadirnya pembangunan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.




Komentar