Padang – Rencana pembongkaran Jembatan Tinggi Kereta Api di Lembah Anai menuai penolakan keras. Masyarakat Peduli Kereta Api Sumatera Barat (MPKAS) menilai struktur bersejarah itu adalah warisan budaya dunia yang tak ternilai harganya.
"Sumbar dulu maju, dikenal, dan terkenal berkat adanya kereta api. Jembatan ini adalah jembatan heritage yang nilainya tidak bisa diukur dengan uang," tegas Sekretaris Jenderal MPKAS, Nofrins Napilus, Kamis (25/12/2025).
Menurut Nofrins, pembongkaran jembatan akan menjadi duka mendalam bagi Sumatera Barat. Jembatan Tinggi Lembah Anai adalah bagian penting dari sejarah kemajuan Sumbar, yang sejak masa kolonial dikenal dunia melalui jalur kereta api.
Kerusakan akibat bencana galodo pada November 2025 lalu memang terjadi pada sejumlah jaringan rel dan tiang penyangga jembatan. Namun, MPKAS menilai kerusakan tersebut masih bisa diperbaiki.
Nofrins menyinggung fotonya pada Desember 2006 yang menampilkan keindahan Jembatan Tinggi Lembah Anai. Foto itu menjadi ikon visual Sumatera Barat dan digunakan sebagai ornamen interior Rumah Makan Padang di berbagai belahan dunia.
"Foto itu saya bagikan gratis sejak awal. Hampir semua Rumah Makan Padang di seluruh dunia memakainya karena mereka sadar nilai sejarahnya," ujarnya.
MPKAS mengingatkan bahwa mereka konsisten memperjuangkan revitalisasi kereta api di Sumatera Barat menjadi kereta api pariwisata. "Melihat dan meresapi keindahan alam Sumbar jauh lebih dahsyat jika menggunakan kereta api," kata Nofrins.
Pada tahun 2007, Nofrins bahkan mencari sponsor untuk mengecat ulang jembatan, sebagai pengingat atas pengorbanan ratusan pekerja yang meregang nyawa saat pembangunannya pada masa kolonial Belanda.
MPKAS menilai Jembatan Tinggi Lembah Anai adalah satu kesatuan dengan jaringan rel kereta api Sawahlunto-Teluk Bayur, yang merupakan bagian dari Warisan Dunia UNESCO. "Ini bukan sekadar soal UNESCO, tapi soal sejarah bangsa kita sendiri," tegas Nofrins.
Ia mengibaratkan rencana pencabutan jembatan seperti mencabut tiang Rumah Gadang. "Kalau satu tiangnya dicabut, lama-lama seluruh rumah gadang bisa runtuh," katanya.
Meski menyadari pentingnya jalur darat Lembah Anai bagi perekonomian Sumbar, MPKAS menekankan bahwa solusi keselamatan tidak boleh mengorbankan warisan sejarah. "Kami berharap Kementerian PUPR dan semua pihak terkait bisa menemukan solusi yang lebih baik," pungkasnya.
Kementerian Kebudayaan juga telah meminta penundaan pembongkaran. Mereka menegaskan bahwa jalur kereta api Sawahlunto-Teluk Bayur beserta jembatan dan strukturnya telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya dan bagian dari Warisan Budaya Dunia UNESCO. Setiap perubahan wajib melalui studi kelayakan dan teknis. Kementerian Kebudayaan akan segera melakukan studi tersebut hingga akhir Desember 2025.


