Padang Pariaman – PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) menggelar program sosial JAPFA for Kids selama dua hari di Sumatera Barat, Kamis-Jumat (21-22/5), dengan lokasi kegiatan di Kantor JAPFA Padang dan SDN 6 Batang Anai, Padang Pariaman. Program ini melibatkan kepala sekolah dan guru dari 12 sekolah binaan JAPFA di Padang Pariaman dan Kota Padang, serta menghadirkan berbagai pemangku kepentingan setempat.
Pada hari pertama, kegiatan dipusatkan di Kantor JAPFA Padang yang berada di kawasan Padang Industrial Park. Sebanyak 36 peserta mengikuti agenda tersebut dengan pemateri Dr. Ir. Asih Setiarini M.Sc, dosen FKM Universitas Indonesia.
Sejumlah pihak turut hadir, di antaranya dr. Hj. Fitriati Martondang selaku Kepala Puskesmas Pasar Usang, Elni Sari selaku Sekretaris Kecamatan Batang Anai, Ali Buzar selaku Wali Nagari Kasang, Tk. Arif Kulmanan selaku Sekretaris KAN Nagari Kasang, Jumaidi selaku Ketua Bamus Nagari Kasang, dan Mairuzal selaku Wakil Ketua Bamus Nagari Kasang.
Kegiatan berlanjut pada Jumat (22/5) di SDN 6 Batang Anai. Senior Officer Social Investment JAPFA, Argha Akbar, mengatakan agenda di lokasi itu dihadiri perwakilan manajemen JAPFA Padang, Yosi Puspa Sari selaku Head of HR & GA Feed Padang, para guru, tokoh masyarakat, serta perwakilan siswa dari sekolah dasar binaan JAPFA.
Di SDN 6 Batang Anai, rangkaian kegiatan meliputi senam bersama, pemeriksaan kesehatan, makan bersama dengan menu gizi seimbang, serta seleksi siswa SD khusus untuk pemain catur.
Direktur Corporate Affairs JAPFA Rachmat Indrajaya menyebut JAPFA for Kids bertujuan menurunkan malagizi, baik gizi buruk maupun gizi kurang, sekaligus membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat pada siswa. Sasaran utamanya adalah anak usia sekolah dasar di sekitar unit operasional JAPFA.
Dalam pelaksanaannya, program ini menerapkan prinsip sharing contribution. JAPFA, kata Rachmat, tidak ditempatkan sebagai donatur, melainkan sebagai mitra yang mendorong sekolah, guru, orang tua, puskesmas, dan pihak terkait lain untuk berkolaborasi serta berkontribusi aktif mencapai tujuan bersama.
Dalam kesempatan yang sama, JAPFA juga mengumumkan pelaksanaan Apresiasi Karya Jurnalistik JAPFA (AKJJ) 2026 sebagai bagian dari upaya memperkuat edukasi publik tentang pentingnya pemenuhan gizi anak. Tahun ini, ajang tersebut mengangkat perjalanan 18 tahun JAPFA for Kids, termasuk implementasinya di Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman, yang melibatkan lebih dari 2.700 siswa dan 200 guru dari 12 sekolah.
AKJJ 2026 merupakan penyelenggaraan ketiga dengan tema “18 Tahun JAPFA for Kids: Kolaborasi untuk Generasi Penerus Bangsa – Dari Data, Fakta, hingga Cerita Lapangan”. Tema ini dipilih sebagai refleksi perjalanan JAPFA for Kids dalam mendukung peningkatan kualitas gizi dan kesehatan anak Indonesia, sekaligus mendorong kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat edukasi publik.
Rachmat menegaskan, selama 18 tahun JAPFA for Kids menjadi wujud komitmen perusahaan dalam mendukung peningkatan gizi dan kesehatan anak. Menurut dia, upaya membangun masa depan Indonesia dimulai dari memastikan anak mendapat asupan gizi yang baik dan tumbuh dalam lingkungan yang mendukung pola hidup sehat.
Ia juga berharap penyelenggaraan AKJJ ketiga dapat memperkuat kolaborasi dengan media dalam meningkatkan kesadaran publik mengenai pentingnya mempersiapkan generasi penerus bangsa.
Persoalan gizi anak di Indonesia masih menjadi perhatian bersama. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023, sebanyak 11 persen anak usia 5-12 tahun masih masuk kategori gizi kurang dan gizi buruk berdasarkan indikator Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U).
Sementara itu, data JAPFA di tujuh lokasi pelaksanaan JAPFA for Kids pada 2024 menunjukkan sekitar 10,1 persen siswa masih mengalami gizi kurang dan gizi buruk. Kondisi tersebut menegaskan bahwa isu malagizi masih memerlukan penanganan kolaboratif dan berkelanjutan.
Hingga 2025, JAPFA for Kids tercatat telah menjangkau 201.056 siswa, 13.541 guru, dan 1.214 sekolah di 105 kabupaten/kota serta 28 provinsi di Indonesia. Program ini juga menunjukkan hasil nyata dalam peningkatan status gizi siswa.
Pada 2024, sebanyak 762 dari 1.479 siswa dengan gizi kurang dan gizi buruk berhasil meningkat menjadi gizi baik atau 51,5 persen. Sementara pada 2025, sebanyak 646 dari 1.034 siswa berhasil naik status gizinya menjadi gizi baik atau 62,5 persen.
Head of Social Investment JAPFA Retno Artsanti menjelaskan, JAPFA for Kids dijalankan melalui sejumlah strategi terintegrasi, mulai dari pemberian telur setiap hari selama enam bulan bagi siswa dengan kondisi malagizi, pemantauan rutin berat dan tinggi badan melalui aplikasi digital, hingga pembiasaan perilaku hidup sehat lewat program Hari Sehat JAPFA.
Program tersebut juga dilengkapi edukasi kesehatan, pelatihan guru, pendampingan orang tua, serta pemantauan berkala agar dampaknya dapat diukur secara konsisten.
Untuk AKJJ 2026, JAPFA melibatkan dewan juri dari berbagai latar belakang profesional, yakni jurnalis senior sekaligus Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Akhmad Munir, fotografer jurnalistik senior Beawiharta, serta pakar gizi masyarakat dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Prof. Dr. drg. Sandra Fikawati, M.P.H.
Melalui penyelenggaraan AKJJ 2026, JAPFA berharap semakin banyak karya jurnalistik yang mampu memperluas pemahaman masyarakat dan mendorong perubahan perilaku ke arah hidup lebih sehat. Ajang ini juga diharapkan menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan data, fakta, dan cerita lapangan untuk memperkuat edukasi publik mengenai pentingnya gizi seimbang bagi anak Indonesia.
Rachmat menutup dengan menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor merupakan elemen penting untuk menciptakan perubahan berkelanjutan. Ia berharap sinergi dunia usaha, media, tenaga kesehatan, sekolah, dan masyarakat terus diperkuat demi mendukung tumbuh kembang generasi penerus bangsa.





Komentar