PADANG – Sumatera Barat dilanda bencana hidrometeorologi. Puluhan warga terdampak banjir bandang, jalan terputus hingga jembatan pun roboh.
“Musibah yang telah terjadi ini perlu disikapi dengan kebersamaan, bukan dengan saling menyalahkan,” tegas Gubenur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah.
Pernyataan serupa pun ditegaskan Ketua Daerah Aliran Daerah Sungai Sumatera Barat, Prof Isril Berd kepada Singgalang melalui sambungan telepon.
“Mari kita bersama-sama care serius membenahi Sumbar. Pemangku kepentingan pemerintah berkolaborasi duduk bersama dengan pengamat lingkungan, akademisi yang pakar dibidangnya,” tegas Isril Berd yang selalu tak bosan-bosan mengingatkan kalau Sumbar etalasenya Bencana Hidrometeorologi.
Istilah tersebut, kata Isril Berd dipopulerkan Pemerhati lingkungan DAS dan BMKG baru-baru ini. Yang artinya, bencana alam disebabkan fenomena cuaca dan iklim ekstrem, melibatkan interaksi antara unsur hidrologi (air), Atsmosfir dan meteorologi (cuaca). Didominasi kejadian seperti banjir, bandang, tanah longsor, badai dan puting beliung.
“Di Sumbar iklim tidak begitu jelas, antara musim kemarau maupun hujan. Di musim hujan, ada panasnya tanpa hujan, di musim kemarau, ada hujannya. Durasi dan intensitasnya pun bisa lama dan tinggi,” tegas Isril Berd, Mantan Guru Besar Unand yang sekarang Guru Besar Universitas Gunadarma Jakarta.
Solusinya, kata Isril Berd adalah dengan membenahi dan pulihkan biofisik Sumbar. Bio itu artinya tumbuhan, tanaman, perkebunan, pertanian dan hutan serta ekologinya Sedangkan fisik, bisa berupa topografinya.Sungai2 nya serta bentangan alamnya
Seperti diketahuhi, kata Isril Berd, sebanyak 65 persen wilayah di Sumbar merupakan lereng, curam dan sangat curam. Topografi curam dan sangat cueam ini banyak ditemukan di kawasan pegunungan Bukit Barisan yang melintasi Sumatera Barat.
Dan selebihannya lebih kurang, 15 hingga 20 persen relatif bertopografi datar, terdapat di Pesisir Selatan, Padang, Padang Pariaman, Agam dan Pasaman Barat
“View landscap seperti ini sangat krusial, karena ada hujan durasi nya cukup lama dan dengan intensitas tinggi sepanjang hari seperti terjadi beberapa hari ini menyebabkan volume yang tertampung disuatu wilayah DAS tak bisa dikendalikan lagi, karena hutannya mubgkin sudah berkurang tutupan lahannya ataupun ada yang sudah rusak tegakan pohon hutannya,” jelasnya.
Di Sumbar ada 134 DAS lebih (Daerah Aliran Sungai) yang sebahagian besar berhulu dari lereng Bukit Barisan di Sumbar. Di Padang, ada 6 DAS dengan 23 aliran sungai dan 5 diantaranya merupakan sungai besar yaitu mulai dari selatan kota Padang menuju arah utara yaitu seperti Sungai Batang Timbalun, Sungai Batang Bungus, Sungai Batang Arau, Sungai Batang Kuranji, Sungai Batang Air Dingin dan Sungai Batang Kandis.
Semuanya DAS berhulu di Bukit Barisan. Jika intensitas hujan banyak dan tinggi, dan aliran permukaan ( run off ) juga tinggi maka badan sungai tidak mampu menampung curah hujan yang besar itu maka terjadilah luapan air pada tubuh sungai terebut yang dinamakan banjir. . Dan kalau banjir ini melampaui debit banjir rata2 dan banyak pula pohon yang tumbang dan material kasar yang hanyut maka terjadilah galodo banjir bandang yang menghanyutkan menggusur apa saja yang terdapat pada sepanjang aliran sungai dari hulu ke hilir.
Seperti kita ketahui, sudah ada imbauan dari BMKG terkait intensitas dan kualitas hujan di mana2. Sayangnya, hutannya sudah ada yang kurang berkualitas tegakan pohonnya ataupun tutupan lahannya
“Jika dilihat fenomena bencana hidrometeorologi terjadi saat ini, banyak sungai meluap disertai hanyutnya kayu-kayu gelondongan di aliran sungai. Ini perlu kita kaji lebih dalam.
Belum lagi terpaparnya, kualitas lahan di hulu sungai, akibat adanya tambang sisir tukil (pasir dan kerikil) ataupun logam lainnya. Sehingga, hulu DAS Batang Hari terkontaminasi logam berat,” jelasnya.
Ia pun jelaskan, terkait 56 persen dari luas 4,2 juta hektar wilayah Sumbar adalah berupa hutan. Apakah hutannya berkualitas atau banyak yang rusak. Jika dilihat dari fenomena bencana terjadi saat ini, tegas Isril Berd, tutupan hutan berkurang kualitasnya, dan juga kemampuan DAS menyimpan air pun berkurang, sehingga sungai meluap dan terjadi banjir.
Di Padang, sering terjadi banjir, 3 – 4 kali setahun. Kalau banjir di perkampungan pemukiman, dampaknya tentu menjadi beban masyarakat. Kalau menganggu badan jalan ataupun jembatandan gedung tentu yang rugi, ya pemerintah. Kerugiannya bukan puluhan juta, tapi bisa puluhan miliar rupiah untuk membenahi fasilitas umum tersebut.
“Ayo benahi biofisik bentabgan alam Sumatera Barat kita, rencanakan tata ruang wilyah ( RTRW ) berbasis kebencanaan ,” tegasnya.
Sumbar ini unik, kata Isril Berd, curah hujan setahun bisa mencapai 5.000 mm/tahun. Curah hujan lebih besar dibanding kota lainnya di Indonesia. Sehingga, drainase harus di sesuaikan. ukuran dimensinya dengan Curah Hujan tersebut Dengan cara memperlebar volume dan panjang drainase sampai ke out letnya yang jelas. Lihat Banda Bakali atau banjir kanal yang dibuat tahun 1911 untuk mengatasi jangan sampai terjadi banjir melanda Pasa Gadang, Alang Laweh dan Sawahan. Ternyata sampai kini tidak dilanda banjir lagi dan tnggallah kenangan.namanya saja yaitu Kampuang Tarandam di Sawahan dan Kampuang Tarandam di Parak Haji Garang yang tidak pernah kebanjiran lagi sampai kimi (009)





Komentar