Payakumbuh – Haniifah Magno Jujefvic, yang belum genap berusia 10 tahun, mencuri perhatian di arena tenis setelah meraih dua medali emas pada Kejuaraan Nasional (Kejurnas) kelompok umur 10 tahun (KU-10) yang digelar Persatuan Tenis Seluruh Indonesia (Pelti) Tanahdatar memperebutkan Piala Bupati. Kejuaraan itu berlangsung pada 23-27 Juni 2026 di Batusangkar.
Prestasi tersebut menjadi puncak perjalanan Haniifah setelah sebelumnya ia hanya mampu membawa pulang medali perak pada Kejuaraan Daerah (Kejurda) dan Kejurnas tahun lalu. Pengalaman itu disebut menjadi bekal penting yang membantu menguatkan mental sekaligus strategi permainannya.
Di luar lapangan, Haniifah dikenal sebagai anak yang ceria. Ia suka membaca buku cerita, menggambar, dan bermain boneka seperti anak-anak seusianya.
Namun, saat memasuki lapangan tenis, sikapnya berubah. Ia tampil lebih disiplin, fokus, dan pantang menyerah, dengan jadwal latihan yang padat mencakup fisik dan teknik selama berjam-jam.
Bagi banyak anak sebayanya, waktu luang biasanya diisi dengan gawai atau bermain bersama teman. Bagi Haniifah, lapangan tenis menjadi tempat untuk mengejar mimpi.
“Aku sangat suka tenis. Senang rasanya kalau bisa memukul bola dengan tepat dan menang. Mimpiku ingin seperti idolaku, Iga Swiatek, dan bisa bermain di Wimbledon,” ujar Haniifah dengan senyum malu-malu, Minggu (28/6).
Di atas lapangan, Haniifah tampil meyakinkan. Pada nomor tunggal putri, ia menunjukkan penempatan bola yang presisi dan footwork lincah untuk menyingkirkan lawan-lawannya.
Di final, Haniifah menaklukkan Hakeema dengan skor 4-2, 4-2. Kemenangan itu memastikan dirinya meraih emas di nomor tersebut.
Haniifah juga tampil solid di nomor ganda putri. Berpasangan dengan Naya dari Kota Solok, ia menunjukkan kerja sama yang baik serta ketenangan di depan net.
Pasangan ini kembali merebut emas setelah menang meyakinkan dengan skor 4-1 dan 4-0. Hasil tersebut melengkapi raihan double gold bagi Haniifah di KU-10.
“Dia bukan hanya punya bakat, tetapi juga kecerdasan taktik yang jarang dimiliki anak seusianya. Haniifah tahu kapan harus menyerang dan kapan harus bertahan,” kata salah satu pelatih yang menyaksikan langsung aksinya di Kejurnas itu.
Dua emas yang diraih Haniifah tentu bukan hasil instan. Di balik prestasi itu ada latihan rutin, pengorbanan waktu bermain, serta dukungan penuh dari keluarga dan tim pelatih.
Keberhasilan Haniifah di KU-10 menjadi angin segar bagi regenerasi tenis putri Kota Payakumbuh, khususnya, dan Sumatera Barat pada umumnya. Di usianya yang masih sangat muda, ia sudah menunjukkan mental juara untuk melangkah ke jenjang lebih tinggi.
Perjalanan Haniifah Magno Jujefvic masih panjang. Dengan dua medali emas di tangan, ia kini bersiap menghadapi tantangan berikutnya dengan harapan suatu hari bisa tampil di panggung Grand Slam dunia.





Komentar