PADANG – Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Dikti Saintek), Brian Yuliarto, mendorong guru besar di Indonesia untuk menghasilkan riset yang menghasilkan royalti dan berdampak komersial. Dorongan ini disampaikan dalam pertemuan Majelis Dewan Guru Besar Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (MDGB-PTNBH) di Universitas Andalas, Jumat (26/9).
Yuliarto menyatakan kesiapannya untuk mendukung pendanaan riset yang berorientasi pasar. Ia menekankan pentingnya riset yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga relevan dengan kebutuhan industri dan masyarakat.
“Guru besar yang hebat adalah profesor yang sudah menerima royalti,” tegasnya.
Dalam pertemuan tersebut, MDGB-PTNBH mendeklarasikan komitmen untuk menjadikan ilmu pengetahuan, teknologi, dan hukum sebagai landasan kebijakan untuk menyelesaikan persoalan bangsa. Deklarasi ini juga menekankan pentingnya riset kolaboratif berbasis kearifan lokal untuk meningkatkan industrialisasi dan kemandirian bangsa.
Ketua Dewan Profesor Universitas Andalas, Marlina, menyatakan bahwa deklarasi ini adalah tekad nyata untuk mengarahkan ilmu pengetahuan bagi generasi mendatang. Sementara itu, Ketua Majelis Guru Besar PTNBH, Baiquni, menegaskan pentingnya kolaborasi lintas kampus untuk membangun industri nasional yang kokoh dan mandiri.
Selain itu, Menteri Dikti Saintek menyinggung subsidi listrik dan elpiji yang besar, serta mendorong inovasi kompor listrik sebagai solusi hemat energi. Ia optimis Indonesia mampu mengejar ketertinggalan dengan negara lain melalui penciptaan industri yang kuat.





Komentar