Padang – Puluhan tahun sudah nama Chatib Sulaiman diajukan sebagai Pahlawan Nasional, tepatnya sejak 1974, namun usulan tersebut selalu kandas. Meskipun namanya telah diabadikan sebagai nama jalan di berbagai daerah seperti Padang, Payakumbuh, dan Tanah Datar, pengakuan negara atas pengorbanannya masih belum terwujud.
"Seharusnya, gugur di medan juang menjadi syarat mutlak untuk memberikan gelar pahlawan nasional kepada Chatib Sulaiman," ujar seorang pengamat sejarah, Ahmad Yani, kepada redaksi kami, Kamis (25/4/2024).
Chatib Sulaiman, seorang pemimpin laskar rakyat tanpa latar belakang militer, gugur saat mempertahankan kemerdekaan pada masa Agresi Militer Belanda II (1948-1949). Ia menjadi garda terdepan dalam merancang sistem pertahanan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) di bawah kepemimpinan Syafruddin Prawiranegara.
Pada 15 Januari 1949, Chatib memimpin rapat strategis di Lurah Kincia, Situjuah Batua, Lima Puluh Kota, untuk melancarkan serangan balik ke Belanda yang menduduki Payakumbuh. Namun, rapat tersebut disergap oleh penjajah, dan Chatib gugur setelah dadanya ditembus peluru prajurit Belanda.
Meskipun tahun lalu masuk dalam daftar 40 calon penerima gelar pahlawan yang diajukan Dewan Gelar Nasional ke Presiden, nama Chatib Sulaiman tidak termasuk dalam 10 tokoh yang diumumkan pada November 2025. Hal ini menimbulkan pertanyaan di kalangan masyarakat Sumatera Barat mengenai alasan belum diakuinya Chatib Sulaiman sebagai pahlawan nasional.






