Penulisan Ulang Berita:
Sumatera Barat – Serikat Petani Indonesia (SPI) Sumatera Barat menegaskan bahwa respons mereka terhadap bencana galodo bukan sekadar bantuan sesaat, melainkan bagian dari perjuangan panjang untuk keadilan agraria dan kedaulatan pangan. Bantuan ini melibatkan "jiwa dan raga" petani untuk membantu sesama yang terdampak, kata Ketua DPW SPI Sumbar, Rustam Efendi.
Rustam Efendi menambahkan, tekanan yang dialami korban galodo tidak hanya bersifat material, tetapi juga psikologis. "Kami tidak hanya datang membawa bingkisan, tetapi juga berdiskusi tentang tata kelola lahan dan kesehatan lingkungan," ujarnya. Diskusi ini bertujuan membangkitkan kembali kesadaran akan pentingnya kearifan lokal.
SPI mencatat kerusakan lahan pertanian yang parah akibat galodo, mencapai 5 hingga 30 hektare di beberapa titik. Di Korong Sabalah Aie, Nagari Anduriang, sekitar 30 hektare sawah tertimbun material banjir. Kondisi ini mengancam masa depan petani karena sawah tertutup tanah dan jaringan irigasi hancur.
"Masa depan tergantung hari ini. Tidak ada aksi nyata hari ini, maka tidak ada masa depan," tegas Rustam. SPI mendorong penyusunan Rencana Tata Ruang Detail Desa/Nagari berbasis kearifan lokal dan tatanan agraria berkeadilan.
SPI menilai respons negara dalam pemulihan pascabencana masih lambat dan birokratis. Rustam mengkritik pola pikir programatik yang menunda respons cepat, padahal pemerintah memiliki sumber daya yang cukup untuk bertindak lebih sigap.
Koordinator Bakti SPI, Eka Kurniawan Sago Indra, menggambarkan kondisi psikologis petani yang kehilangan harapan akibat bencana. "Banyak petani kehilangan harapan. Mata kosong menatap masa depan," ujarnya. Pemulihan sawah membutuhkan waktu 1-5 tahun dengan tantangan utama berupa lumpur, batu besar, dan kerusakan irigasi.
Dalam dua minggu pertama, Bakti SPI menyalurkan bantuan berupa sembako, selimut, dan pakaian. Namun, pendampingan jangka panjang dinilai lebih penting untuk membangun kembali kepercayaan diri petani. Model solidaritas yang dibangun adalah petani membantu petani, dengan dana dari anggota SPI di berbagai daerah.
Dari pengalaman Bakti SPI, organisasi ini mencatat perlunya reforma agraria berbasis adat, kajian ulang pemukiman di daerah rawan, dan manajemen bantuan bencana yang profesional. SPI juga mendorong skema relokasi berbasis kesepakatan adat dan pola anak asuh bagi korban bencana.
Selain petani dewasa, Bakti SPI juga memberikan perhatian khusus pada anak-anak penyintas galodo. Tim SPI di lapangan, Nurdin Hamzah, mengatakan bahwa bantuan berupa seragam sekolah diharapkan dapat memulihkan psikologis anak-anak dan mengurangi kesedihan akibat bencana.


