Akses Kredit Digital Dorong Perempuan Indonesia Kembangkan Usaha dan Ekonomi Keluarga

Akses pembiayaan inklusif bantu perempuan kembangkan usaha dan perkuat kesejahteraan.

Jakarta – Keterlibatan perempuan dalam menggerakkan ekonomi nasional semakin menguat seiring dengan terbukanya akses pembiayaan yang inklusif di Indonesia.

Laporan Dampak Sosial dan Ekonomi Kredivo mengungkapkan sebanyak 48 persen dari total penerima kredit usaha di platform mereka merupakan perempuan.

Capaian ini menjadi sinyal positif bagi pemberdayaan ekonomi perempuan dalam menentukan keputusan finansial di tingkat rumah tangga.

Kondisi tersebut hadir sebagai solusi atas hambatan akses kredit formal yang kerap dialami perempuan, termasuk kendala agunan atau riwayat kredit.

Padahal, data World Bank tahun 2020 mencatat bahwa 60 persen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia dikelola oleh perempuan.

Perluasan akses pembiayaan menjadi instrumen vital untuk mengatasi berbagai hambatan tersebut sekaligus mendorong partisipasi aktif perempuan dalam dunia usaha.

Chief Marketing Officer Kredivo, Indina Andamari, menegaskan komitmen perusahaannya dalam menciptakan kesetaraan akses sejak tahun 2016.

“Kami ingin memastikan semakin banyak perempuan tidak hanya terjangkau layanan kredit, tetapi juga dapat memanfaatkannya secara produktif dan bertanggung jawab untuk mengembangkan usaha serta memperkuat kesejahteraan keluarga,” ujar Indina.

Tren positif ini terlihat dari lonjakan penggunaan kredit untuk modal usaha yang meningkat hingga 15 kali lipat dibandingkan tahun 2019.

Pada tahun 2025, sebanyak 54 persen penyaluran kredit Kredivo telah terserap untuk kebutuhan produktif.

Pencapaian ini membuktikan bahwa masyarakat kini semakin memanfaatkan layanan keuangan digital sebagai pendukung aktivitas ekonomi yang nyata.

Wakil Kepala Bidang Penelitian dan Pelatihan LD FEB UI, Paksi Walandouw, menyoroti dampak sosiologis dari fenomena peningkatan akses keuangan tersebut.

Menurut Paksi, akses terhadap sumber daya ekonomi mampu meningkatkan posisi tawar perempuan dalam pengambilan keputusan.

“Inklusi keuangan mendukung kapasitas perempuan dalam mengelola sumber daya dan menentukan pilihan ekonomi secara lebih mandiri,” jelas Paksi.

Guna menjaga keberlanjutan inklusi, Kredivo mengedepankan prinsip pemberian pinjaman yang bertanggung jawab atau responsible lending.

Perusahaan juga secara masif melakukan edukasi melalui inisiatif seperti Kredinspirasi dan Generasi Djempolan.

Upaya tersebut membuahkan hasil dengan tercatatnya 65,7 persen pengguna Kredivo yang kini tergolong memiliki literasi keuangan yang baik atau well-literate.

Indina menambahkan bahwa pertumbuhan akses harus berjalan seiring dengan peningkatan kecakapan literasi masyarakat.

“Perluasan inklusi perlu berjalan beriringan dengan literasi keuangan agar masyarakat mampu menggunakan kredit secara bijak sesuai kemampuan finansialnya,” tutup Indina.