Bukittinggi – Kunjungan Komunitas Astronomi Sumbar ke Laboratorium Terpadu UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi membuka peluang baru bagi pengembangan astronomi dan ilmu falak di Sumatera Barat.
Agenda ini menjadi langkah awal untuk menjalin kolaborasi, bertukar pengetahuan, dan memperkuat ekosistem riset antariksa di Ranah Minang.
Rombongan disambut hangat oleh civitas akademika serta pengelola Laboratorium Terpadu kampus tersebut.
Komunitas Astronomi Sumbar merupakan wadah yang menghimpun pemerhati astronomi dari berbagai latar keilmuan dan profesi.
Anggotanya terdiri atas lulusan Program Studi Astronomi dari sejumlah perguruan tinggi, peneliti dan anggota Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Agam, dosen Ilmu Falak, serta pegiat dan pecinta astronomi amatir dari berbagai daerah di Sumatera Barat.
Dalam kunjungan itu, peserta diajak meninjau langsung fasilitas observasi astronomi milik UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi.
Staf laboratorium kemudian memperagakan cara kerja teleskop dan perangkat pendukung pengamatan benda langit lainnya.
Mereka juga menjelaskan fungsi alat serta teknis pengoperasiannya dalam mendukung kebutuhan umat, mulai dari penentuan waktu ibadah, akurasi arah kiblat, hingga pengamatan fenomena langit secara real-time.
Founder Komunitas Astronomi Sumbar, Fauzan, S.Si., menilai keberadaan observatorium pertama sekaligus satu-satunya di Sumatera Barat yang berada di UIN Bukittinggi menjadi tonggak penting bagi kemajuan astronomi dan ilmu falak di daerah.
Ia mengaku bersyukur dan senang atas fasilitas modern yang dimiliki kampus tersebut.
Kepala Laboratorium Terpadu UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, Dr. Arifmiboy, menyambut baik kunjungan itu sebagai upaya memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan komunitas dalam mendorong kemajuan ilmu pengetahuan.
Ia berharap silaturahmi yang terjalin dapat segera ditindaklanjuti melalui berbagai kegiatan bersama, seperti observasi, seminar, pelatihan, dan penelitian.
Kedua pihak sepakat laboratorium dan observatorium tersebut tidak boleh berhenti sebagai ruang akademik semata.
Ke depan, fasilitas itu diproyeksikan menjadi pusat edukasi, penelitian, dan literasi astronomi yang inklusif bagi mahasiswa, akademisi, dan masyarakat umum.







Komentar