Padang – Karyawan Semen Padang Group, Yolla Cynthiana, dipercaya mewakili Indonesia pada Hanoi International Martial Arts Festival 2026 di Hanoi, Vietnam, yang akan berlangsung pada 7-9 Agustus 2026.
Penugasan itu menjadi kebanggaan bagi PT Semen Padang, perusahaan semen pertama di Indonesia sekaligus yang tertua di Asia Tenggara, yang merupakan anak usaha PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. atau SIG.
Yolla tidak hanya tercatat sebagai karyawan perusahaan, tetapi juga atlet binaan PPS Sakato Semen Padang, Forum Komunikasi Karyawan Semen Padang Group (FKKSPG), dan IPSI Sumatera Barat.
Kepercayaan kepada dirinya berawal dari surat Pengurus Provinsi IPSI Sumatera Barat yang mengacu pada Surat PB IPSI Nomor 11/SJ/PB IPSI/VII/2026 tertanggal 15 Juli 2026, terkait permintaan dua penampil pencak silat yang dikombinasikan dengan Silat Tradisi Minangkabau untuk ajang internasional itu.
Melalui surat yang ditandatangani Ketua Umum Pengprov IPSI Sumatera Barat, Vasko Ruseimy, pada 20 Juli 2026, Yolla Cynthiana bersama Ochi Ramadhani ditetapkan sebagai delegasi Indonesia untuk memperkenalkan pencak silat dan budaya Minangkabau ke dunia.
Sebelum bertolak ke Vietnam, keduanya mengikuti pemusatan latihan atau Training Center di Padepokan Pencak Silat Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, sejak 23 Juli 2026 di bawah pembinaan PB IPSI.
Sekretaris Perusahaan PT Semen Padang, Win Bernadino, menyebut terpilihnya Yolla sebagai kebanggaan perusahaan sekaligus bukti bahwa Semen Padang memberi ruang bagi karyawan untuk tumbuh dan berprestasi di berbagai bidang.
“PT Semen Padang mendukung penuh setiap kegiatan positif yang dapat mengembangkan potensi karyawan, terutama yang membawa nama Indonesia di tingkat dunia. Kami bangga karena Yolla adalah bagian dari keluarga besar Semen Padang Group sekaligus atlet binaan PPS Sakato Semen Padang,” ujarnya.
Menurut Win, pencapaian ini menunjukkan budaya perusahaan yang tidak hanya menekankan profesionalisme kerja, tetapi juga mendorong pengembangan talenta, disiplin, dan semangat berprestasi untuk mengharumkan nama bangsa.
Ia berharap Yolla mampu tampil optimal di Hanoi dan menjadi contoh bagi karyawan lain untuk terus mengasah kemampuan diri.
“Semoga Yolla dapat mengharumkan nama Indonesia, Sumatera Barat, sekaligus membawa nama baik PT Semen Padang di panggung internasional,” katanya.
Bagi Yolla, kesempatan tampil di Hanoi merupakan amanah besar sekaligus buah dari latihan dan dedikasi yang dijalankannya selama bertahun-tahun.
“Kepercayaan ini adalah amanah besar yang saya syukuri. Saya tidak hanya membawa nama diri sendiri, tetapi juga membawa marwah Ranah Minang, IPSI Sumatera Barat, PPS Sakato Semen Padang, FKKSPG, serta keluarga besar PT Semen Padang Group ke panggung dunia,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa gerakan silat yang akan dibawakan bukan sekadar teknik bela diri, melainkan representasi budaya Minangkabau yang sarat nilai dan filosofi.
“Saya ingin dunia melihat bahwa silat Minangkabau bukan hanya indah dipandang, tetapi juga kaya akan nilai dan karakter.”
Sebagai karyawan PT Semen Padang Group, Yolla mengaku mendapat dukungan penuh dari perusahaan sehingga mampu menjalankan peran sebagai pekerja sekaligus atlet.
“Saya bangga karena perusahaan selalu memberikan kesempatan dan dukungan kepada saya untuk terus berprestasi. Terima kasih kepada Unit Komunikasi dan Kesekretariatan dan atasan saya, Fadhlan Maulana, yang terus memberikan motivasi selama proses latihan. Dukungan ini menjadi penyemangat untuk memberikan penampilan terbaik di Hanoi,” katanya.
Menghadapi festival internasional itu, Yolla melakukan persiapan menyeluruh, mulai dari peningkatan kebugaran, penyempurnaan teknik, hingga pendalaman filosofi budaya Minangkabau.
Setiap hari ia berlari lima kilometer untuk menjaga stamina, lalu menjalani latihan intensif bersama pelatih untuk menyempurnakan jurus tradisi Minangkabau, meningkatkan kekuatan, dan mengevaluasi setiap gerakan melalui rekaman video agar tampil presisi.
Ia juga terus memperdalam makna dari setiap gerakan silat yang akan dibawakan.
“Saya ingin penonton internasional tidak hanya menikmati keindahan geraknya, tetapi juga merasakan nilai raso jo pareso yang menjadi karakter masyarakat Minangkabau. Karena itu, kostum, musik pengiring, hingga ekspresi akan benar-benar mencerminkan identitas budaya kita,” kata dia.
Selama mengikuti pemusatan latihan di TMII, ia memusatkan perhatian pada peningkatan daya tahan, penjiwaan setiap jurus, serta penguatan mental untuk tampil di panggung internasional.
“Aspek yang paling ingin saya tingkatkan adalah sinkronisasi antara gerak, napas, dan rasa. Di situlah letak keindahan sejati silat tradisi kita,” ucapnya.
Yolla berharap keikutsertaannya di Hanoi dapat memotivasi generasi muda untuk terus melestarikan pencak silat sebagai warisan budaya bangsa.
“Jangan pernah malu dengan jati diri kita. Pencak Silat Minangkabau bukan sekadar bela diri, tetapi warisan budaya yang mengajarkan nilai penghormatan, kebersamaan, dan kebijaksanaan. Kalau kita sendiri tidak bangga, siapa lagi yang akan membawa silat Minang ke panggung dunia,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada keluarga besar PPS Sakato Semen Padang yang telah membentuk karakter dan kemampuannya sebagai atlet.
“Di PPS Sakato Semen Padang saya belajar bahwa prestasi lahir dari disiplin, kebersamaan, dan kerja keras. Saya berharap dapat membawa pulang kebanggaan untuk Indonesia, Sumatera Barat, PT Semen Padang, dan seluruh keluarga besar PPS Sakato Semen Padang,” pungkas Yolla.


Komentar