Padang – Polemik video call sex (VCS) yang menyeret nama Bupati Limapuluh Kota, Safni Sikumbang, terus bergulir. Pakar Hukum Pidana dari Universitas Andalas, Edita Elda, mendesak kepolisian untuk melakukan uji digital forensik guna mengungkap keaslian rekaman tersebut.
Edita menegaskan, kepolisian tidak bisa hanya berpegang pada pengakuan pelaku yang menyatakan video itu hasil editan. "Tidak bisa secara sepihak saja," ujarnya, Kamis (19/3/2026). Menurutnya, uji forensik digital oleh ahli Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) sangat krusial untuk memastikan kebenaran.
Sebelumnya, Polda Sumbar menyatakan bahwa rekaman VCS Bupati Safni adalah editan, berdasarkan pengakuan seorang narapidana berinisial ABG di Lapas Sarolangun, Jambi.
Edita menekankan pentingnya memastikan keaslian video tersebut, mengingat dugaan unsur pornografi dan keterlibatan seorang tokoh publik. "Harus dilihat apakah memang demikian adanya atau tidak keaslian video melalui digital forensik," tegasnya. Ia menambahkan, temuan terkait kecanggihan editan dalam video juga perlu diungkapkan.
Sementara itu, Kabid Humas Polda Sumbar, Kombes Pol Susmelawati Rosya, menyatakan bahwa rekaman VCS adalah editan berdasarkan keterangan pelaku saat diperiksa. Ia mengakui, polisi tidak melibatkan pakar atau ahli digital forensik dan telematika dalam penentuan keaslian rekaman tersebut. "Terlapor (pelaku) mengaku video editan," kata Susmelawati, Rabu (18/3/2026).






