Padang – Sumatera Barat perlu memperkuat mitigasi bencana berbasis spasial dan kearifan lokal, serta meningkatkan sistem peringatan dini untuk menghadapi ancaman cuaca ekstrem yang berulang. Pengamat Kebencanaan dan Tata Ruang, Dr. Haryani MT, menyampaikan hal ini.
Haryani menjelaskan bahwa kombinasi intensitas hujan tinggi, topografi bergunung, dan jaringan sungai yang berhulu di pegunungan Bukit Barisan membuat Sumatera Barat sangat rentan terhadap bencana hidrometeorologi seperti banjir, galodo (banjir bandang), longsor, dan cuaca ekstrem.
Banjir kerap melanda dataran rendah dan bantaran sungai di wilayah seperti Padang, Pesisir Selatan, Dharmasraya, dan Agam, terutama di area dengan drainase perkotaan buruk atau sedimentasi sungai tinggi. Galodo, bencana khas Sumatera Barat, terjadi akibat hujan deras di hulu sungai yang membawa material seperti batu, kerikil, kayu, dan lumpur. Sementara itu, longsor sering terjadi di lereng curam sepanjang Jalan Lintas Sumatera dan jalur pegunungan, terutama akibat tanah jenuh air dan struktur geologi yang mudah lapuk.
Kerusakan vegetasi hulu, pembukaan lahan, dan erosi tebing sungai turut menjadi faktor pemicu bencana di Sumatera Barat, imbuh Haryani.


Komentar