Padang – Sumatra Barat berupaya menjadikan kekayaan sejarah perjuangan sebagai daya tarik wisata baru. Pemerintah daerah didorong untuk mengelola jejak para pahlawan, mulai dari tokoh nasional hingga pejuang perempuan, sebagai destinasi histori yang menarik bagi wisatawan.
Gagasan ini muncul dalam diskusi antara Gubernur Sumatra Barat, Mahyeldi, dengan redaksi Langgam.id. Perbincangan bermula dari mural presiden Indonesia yang terpampang di dinding kantor redaksi.
"Ini wajah-wajah presiden ya? Ini cukup lengkap ya. Ada Pak Syafruddin Prawiranegara, ada Pak Assaat," kata Mahyeldi, mengomentari mural tersebut.
CEO Langgam.id, Andri El Faruqi, menuturkan bahwa mural itu menjadi pembuka diskusi tentang potensi wisata sejarah di Sumatra Barat. Ia mencontohkan antusiasme generasi Z terhadap peringatan 75 Tahun PDRI yang diadakan Langgam.id pada Januari 2024.
"Dari iven ini tampak antusias terkait wisata sejarah ini cukup menjanjikan. Bahkan yang mendaftar saat itu hampir 300 orang. Ini sangat potensial untuk dikembangkan jika dikemas dengan konsep yang menarik," ujar Andri.
Menurut Andri, hampir setiap kabupaten/kota di Sumatra Barat memiliki peristiwa penting selama masa perjuangan dan melahirkan tokoh-tokoh pejuang.
Penasehat Redaksi Langgam.id, Hendra Makmur, menambahkan bahwa Sumatra Barat perlu membangun citra sebagai "tanah para pejuang". Ia mencontohkan Desa Kota Gadang di Kabupaten Agam yang merupakan tempat kelahiran tiga tokoh nasional: Haji Agus Salim, Sutan Sjahrir, dan Roehana Kudus.
"Ini harus digaungkan untuk mendapatkan persepsi publik bahwa Sumbar adalah tanah kelahiran para pejuang. Pemerintah daerah punya andil besar untuk itu," tegas Hendra.
Gubernur Mahyeldi menyambut baik gagasan tersebut dan menyatakan kesiapannya untuk menyiapkan konsep wisata histori yang menarik. Ia mencontohkan penggabungan peringatan Hari Bela Negara dan peristiwa Situjuah dalam satu rangkaian acara.
"Selain sebagai tujuan wisata, konsep ini juga sebagai narasi untuk mewariskan sejarah penting pada masa perjuangan kepada generasi muda," pungkas Mahyeldi.






