Sapi Pesisir: Kekayaan Genetik Lokal Pacu Ketahanan Pangan Nasional

Padang – Sapi Pesisir, rumpun ternak asli Indonesia, kini menjadi fokus utama dalam upaya memperkuat ketahanan pangan nasional. Potensi besar sapi lokal ini untuk pengembangan peternakan efisien dan berkelanjutan di iklim tropis semakin diakui.

Kepala BPTU-HPT Padang Mengatas, Farouk Mochtar, menyatakan bahwa pengembangan sapi Pesisir dikelola secara terarah melalui sistem pemeliharaan berbasis padang penggembalaan. "Dengan dukungan areal pastura yang luas, ternak dipelihara secara alami namun tetap dalam pengawasan ketat terkait manajemen produksi, reproduksi, kesehatan, serta kecukupan pakan. Sistem ini menghasilkan sapi yang sehat, tangguh, dan memiliki kualitas genetik yang terjaga," ujarnya.

Program pengembangan sapi Pesisir di Padang Mengatas dimulai dengan penjaringan ternak dari masyarakat. Dimulai dengan 50 ekor pada tahun 2013, jumlahnya terus meningkat hingga mencapai 648 ekor pada awal tahun 2026. Pertumbuhan ini didukung oleh manajemen pembibitan terencana, seleksi bibit ketat, dan pengelolaan reproduksi berkesinambungan.

Dalam lima tahun terakhir, sapi Pesisir mencatat tingkat kelahiran tertinggi dibandingkan rumpun sapi lain yang dipelihara, menyumbang hampir setengah dari total kelahiran setiap tahunnya. Persentase kelahiran mencapai 46,44 persen, menunjukkan tingkat fertilitas yang baik dan efisiensi jarak beranak optimal.

Keunggulan sapi Pesisir terletak pada kemampuannya beradaptasi dengan lingkungan tropis. Tahan terhadap suhu panas, efisien dalam memanfaatkan hijauan lokal, serta tangguh menghadapi tekanan lingkungan dan penyakit. Ukuran tubuhnya yang kompak dan kebutuhan nutrisi yang tidak terlalu tinggi membuat sapi Pesisir cocok dikembangkan dalam berbagai sistem pemeliharaan, baik ekstensif maupun intensif.

Minat masyarakat terhadap sapi Pesisir juga tinggi, terlihat dari angka distribusi ternak yang dilakukan oleh BPTU-HPT Padang Mengatas. Sapi Pesisir telah didistribusikan ke berbagai wilayah di Indonesia. Data menunjukkan bahwa pada periode 2018 hingga 2025, sapi Pesisir menyumbang sekitar 43,26 persen dari total penyaluran ternak, dengan 1.108 ekor dari total 2.561 ekor yang didistribusikan adalah sapi Pesisir.

Di berbagai daerah, sapi Pesisir terbukti mudah dipelihara dengan biaya yang relatif rendah, namun tetap memiliki performa reproduksi yang stabil. Dukungan pembibitan terstruktur dan pengawasan profesional dari BPTU-HPT Padang Mengatas memastikan peningkatan mutu genetik sapi Pesisir tanpa menghilangkan karakter adaptif alaminya.

Sapi Pesisir kini dipandang sebagai aset genetik nasional yang memiliki peran penting dalam mendukung pembangunan peternakan Indonesia. Pengembangan berkelanjutan diharapkan dapat meningkatkan populasi ternak nasional dan memberikan manfaat ekonomi bagi peternak di berbagai daerah.