Padang – Puluhan deta dan tingkuluak kreasi memenuhi workshop milik Welly Nofi Sastra atau Bu We yang akrab disapa Mak We di kawasan Parupuak Tabing, Kota Padang, saat ia terus memproduksi aksesori khas Minangkabau yang kini menjadi produk unggulannya.
Di bengkel kerja kecil itu, Mak We hampir selalu sibuk dan jarang keluar rumah tanpa alasan yang jelas karena setiap waktu baginya harus dimanfaatkan sebaik mungkin.
Ia merancang sendiri produk yang sudah dilindungi hak paten dengan ciri khas hasil kreativitasnya, sehingga tak khawatir dianggap meniru karya orang lain.
Menurut Welly, merek Welly Permata Hati telah mengantongi HAKI, termasuk sejumlah produk seperti tingkuluak kreasi, Deta Rancak Permata Hati, dan Desain Permata Hati.
Perlindungan itu membuatnya lebih tenang menjalankan usaha tanpa cemas merek maupun karyanya diklaim pihak lain.
Di depan rumahnya, ia juga membangun galeri untuk memamerkan beragam hasil buatannya, mulai dari aksesori bernuansa Minang, gantungan kunci, deta, tingkuluak kreasi, hingga hiasan dinding.
Ia turut memproduksi tingkuluak sederhana, dompet, dan berbagai perlengkapan lain sesuai kebutuhan pelanggan tetap dengan tetap mempertahankan ciri khas Minangkabau.
Dengan keterampilan yang dimiliki, Welly bisa menyelesaikan satu deta atau satu tingkuluak dalam waktu sekitar satu jam, mulai dari menjahit kain dasar hingga menjadi produk jadi.
Meningkatnya permintaan membuatnya mempekerjakan tiga orang karyawan untuk membantu produksi.
Ia mengerjakan pola, sementara para karyawan menjahit dari rumah masing-masing, dan satu orang lainnya membantu pemasaran digital sekaligus mendukung siaran langsung di TikTok.
Welly menyebut, ia tidak setiap hari melakukan live, melainkan tiga kali sepekan dengan durasi sekitar empat jam setiap kali siaran.
Saat ini, ia mampu memproduksi 300 hingga 400 deta dan tingkuluak kreasi per bulan.
Untuk penjualan deta di Shopee, produksinya mencapai sekitar 300 pieces per bulan.
Dari modal awal Rp5 juta, omzet usahanya kini naik menjadi Rp20 juta hingga Rp25 juta per bulan.
“Kalau sedang sangat sepi, paling rendah sekitar Rp5 juta sebulan,” ujarnya saat ditemui topsatu.com di rumahnya, Kamis (10/7/2026).
Welly bukan sosok baru di dunia industri kreatif Kota Padang.
Ia memulai langkahnya sebagai penari sanggar sebelum mengembangkan rumahnya menjadi Sanggar Seni Permata Hati dan Taman Bacaan Masyarakat pada 2008.
Selain itu, ia juga menjalankan jasa wedding party organizer serta menerima pesanan kuliner Minang seperti rendang.
Usaha deta rancak dan tingkuluak kreasi baru ia tekuni sejak 2022.
Sebagai pelaku UMKM, Welly mengaku merasakan naik turun penjualan dan memahami bahwa tidak semua bidang usaha selalu dibeli konsumen setiap saat.
Ia menghadapi masa sepi dan masa ramai pesanan dengan mengandalkan keramahan, konsistensi kualitas, serta jejaring dan akses pasar.
Salah satu jaringan yang banyak membantunya adalah Rumah BUMN BNI, tempat ia bergabung sejak lembaga itu hadir di Kota Padang pada 2024.
“Setidaknya, kami bisa memperoleh akses pasar dan relasi di Rumah BUMN BNI ini,” kata Welly yang pernah menerima pin emas dari Pemerintah Kota Padang pada peringatan HUT Kota Padang 2024.
Produk Welly Permata Hati banyak dipajang di Rumah BUMN BNI di Jalan Diponegoro, Padang, yang berdekatan dengan Pantai Padang dan Museum Adityawarman di Taman Melati.
Bagi Welly, Rumah BUMN BNI sudah seperti galeri kedua karena setiap tamu yang datang bisa langsung melihat dan membeli produknya.
Jika ada pembeli yang membutuhkan dalam jumlah besar, mereka akan diarahkan datang langsung ke galeri Welly Permata Hati.
Manfaat serupa juga dirasakan pelaku UMKM lain, Dapur Yonica, yang menjadi binaan Rumah BUMN BNI Padang.
Pemiliknya, Rosmawarty, mengaku beruntung menjadi bagian dari UMKM binaan itu karena selalu dilibatkan dalam setiap bazaar yang menghadirkan stan Rumah BUMN BNI.
“Pernah sekali saya diajak ke pameran oleh BNI ke Jakarta pada 2018. Selain itu, setiap ada pameran yang ada stan BNI, kami pasti diajak ikut. Intinya, kami sangat terbantu dalam pemasaran. Rumah BUMN BNI ini menjadi wadah promosi bagi kami,” kata Rosmawarty kepada topsatu.com, Jumat (10/7).
Dengan akses pasar yang lebih luas, ia menilai masyarakat kini semakin mengenal produk Dapur Yonica.
Produk andalannya adalah rendang tuna dan rendang sapi, disusul dendeng sapi, pempek tenggiri, rendang lokan, tuna lado hijau, kue bangkit, rendang jengkol, dan kerupuk tulang ikan.
Rosmawarty mengatakan dirinya tidak memandang kompetitor sebagai saingan, melainkan sebagai mitra usaha.
Karena itu, ia tetap menitipkan produknya di beberapa tempat milik kompetitor, meski bukan produk yang sama, melainkan jenis berbeda seperti kerupuk tulang ikan, kue bangkit, dan lainnya.
Untuk pempek frozen, produknya sudah masuk ke salah satu mal di Kota Padang.
Ia juga membuka stand di lokasi Car Free Day setiap Minggu, tepatnya di depan Kantor Gubernur Sumatera Barat atau simpang Mapolda Sumbar, agar lebih dekat dengan konsumen.
Fasilitator Rumah BUMN BNI Padang, Nana, mengatakan saat ini ada 547 UMKM yang bergabung dan mereka mendapat pelatihan sesuai kebutuhan, diarahkan ke digitalisasi, serta dibantu dalam akses pasar dan jejaring.
Ia menilai salah satu pekerjaan rumah penting untuk memperkuat UMKM adalah membangun kepercayaan diri pelaku usaha agar konsisten menjalankan pemasaran digital.
Menurutnya, banyak pelaku UMKM mengerjakan semuanya sendiri sehingga kerap kewalahan.
“Setidaknya, mereka bisa konsisten memasang status produk di WhatsApp. Itu terus kami ingatkan,” ujarnya saat ditemui di Rumah BUMN Padang, Selasa (7/7).
Nana menambahkan, Rumah BUMN BNI terus mendorong pelaku UMKM bergabung tanpa syarat apa pun.
Lembaga itu juga berupaya melahirkan pelaku usaha baru lewat program Rumah BUMN Rumah Goes to Campus yang berjalan sejak 2023 untuk menanamkan semangat kewirausahaan kepada mahasiswa sebagai calon entrepreneur baru.
Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo dalam keterangan resminya di situs BNI menyampaikan bahwa sebagai bank milik negara, BNI berkomitmen hadir di tengah masyarakat dan membuka akses seluas-luasnya bagi seluruh warga untuk terlibat dalam perekonomian nasional tanpa membedakan gender maupun kondisi fisik.
BNI yang lahir sebagai bank pertama milik negara awalnya berperan membangun sistem ekonomi nasional dan menjadi simbol kedaulatan ekonomi Indonesia.
Setelah delapan dekade, BNI terus tumbuh bersama masyarakat dan memberi dampak nyata lewat berbagai program, di antaranya BNI Xpora yang membantu UMKM memperluas bisnis ke pasar internasional dan BNI Dedikasi yang berfokus pada pemberdayaan ekonomi desa.
Bagi pelaku UMKM, keberadaan Rumah BUMN BNI dinilai bukan semata soal permodalan, melainkan dukungan ekosistem agar usaha rakyat berkembang, lapangan kerja bertambah, ekonomi bergerak, perempuan lebih mandiri, dan UMKM naik kelas melalui digitalisasi.
Welly dan Rosmawarty menunjukkan bahwa kemandirian ekonomi juga ditopang jejaring, akses pasar, literasi keuangan, serta pendampingan digitalisasi, sehingga ribuan pelaku UMKM bisa tumbuh dan produk lokal memperoleh ruang lebih luas di pasar.





Komentar